Kamis, 15 November 2012

“PANEN SEMANGKA ORGANIK”



Program pertanian Organik melalui Sekolah Lapang Pertanian Organik, SLPO Makamenggit, Bersama Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI.  Di Desa Makamenggit, Kecamatan Nggaha Ori Angu, Sumba Timur. Sudah memasuki separuh waktu pada  Fase tanaman sayuran organik.

Pada hari Rabu tanggal 31 oktober 2012. Masyarakat petani tersebut sedang memanen semangka organik, suasana ceria dengan teriakan kakalak, sebagai teriakan khas kegembiraan pulau sumba mulai terdengar nyaring kembali, seolah membahana memenuhi alam makamenggit.

“Meski  pertama kali tanam dengan menggunakan pupuk organik  dan pestisida organik, kami merasa puas biaya murah hasilnya maksimal. Sejarah akan mencatatnya di sumba timur.” Ujar Daud Duka selaku ketua kelompok SLPO Makamenggit.

Dalam  panen tersebut hadir pula  kepala Desa Makamenggit, Yohana Wulang .” inilah kebanggaan kami sebagai perangkat Desa, dimana jerih payah dari hasil belajar bertani selama mengingikuti program pemberdayaan pertanian  dari Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia, IPPHTI. Mereka nikmati secara bersama hari ini.” Katanya

Menjadi petani di pulau sumba saat ini  ,mungkin  bukan sebuah pekerjaan yang menjanjikan atau bisa dibilang kaum rendahan yang dipandang dengan sebelah mata, namun perlu dicatat hanya dengan jasa merekalah  pangan akan selalu tersedia.

Sebetulnya banyak tenaga-tenaga penyuluh lapangan pertanian, PPL. Namun lebih suka duduk di belakang meja karena sudah memegang jaminan hidup berupa “SK” pegawai, buat apa cape-cape terjun lapangan? Mungkin begitu alasannya. Maka tidak heran jika PPL pertanian dengan Petani di lapangan sering tidak nyambung, mungkin di Sumba Timur tidak demikian.

Beginilah nasib petani yang hidup di negri “Agraris”, bukannya petani diberdayakan dengan membekali ilmu taninya, malah yang mempunyai kebijakan diatas lebih suka mendatangkan buah-buah impor dari luar negri, yang sudah dibungkus dengan bahan pengawet. Tentu saja sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Dalam waktu yang bersamaan hadir pula Iskandar Saher dan Nick Amstrong dari lembaga P3H Sumba, serta Thomas dari Canadian Food Green Bank. Mereka hadir sekedar ingin menyaksikan perkembangan masyarakat petani setelah masuk dalam program  pemberdayaan pertanian organik  oleh IPPHTI.
Pola seperti ini sangat bagus diterapkan, sebab manusianya yang digarap baru praktek yang lebih banyak di lapangan, saya sangat puas melihat ada perubahan di sini, dibanding satu tahun yang lalu. “ ucapnya puas
Menurut Iskandar Saher, Bahwa Thomas warga Amerika dengan gelar Doktor di bidang pertanian. Sangat mengapresiasi program dari IPPHTI, dengan melihat karya nyata yang ditunjukan oleh anggota SLPO Makamenggit.

“ Bukan  banyak dan sedikitnya yang kami tanam, namun ada kepuasan tersendiri dalam batin kami sebagai petani yang tidak bisa dinilai dengan materi, ini luar biasa.” Ucap Agustinus
“Pola budidayanya yang telah kami miliki dari program ini, sehingga ke depan jika ingin tanam lebih banyak di lahan sendiri sudah memahaminya.” Ucap Hendrika yang diamini oleh Merdeka teman sesama   anggota kelompok SLPO Makamenggit.
“isteri saya sudah pesan jauh-jauh hari jika panen semangka harus dibawakan satu ke rumah, jika tidak wah bisa bahaya.’ Kata  Rehabiam Kilimandu  sambil menggendong semangkanya.
“iya bisa - bisa tidak dibukakan pintu.” Kelakar Amos Pariwana menggoda Rehabiam
Para petani di Desa Makamenggit hampir 80  persen belum pernah merasakan makan semangka, sedangkan menanampun baru mereka lakukan, begitu program IPPHTI masuk ke sumba timur.
“ Kami hanya dengar namanya saja dan menonton di televisi, bagaimana cara tanam dan rasanya, sekarang terlaksana dan kami sangat menikmatinya,mantap…!” cerita Abraham Loasana.




Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, dibungkus oleh awan hitam. Teriakan teriakan kakalak  sebagai tanda kesukacitaan saat panen khas budaya Pulau Sumba tak terdengar lagi. Para petani SLPO Makamenggit kembali ke rumahnya dengan membawa hasil panen buat keluarganya masing-masing.
Sejuta kegembiraan diceritakan sambil bercengkrama pada keluarganya. Hasil karya nyata yang mereka rasakan. Panen itulah tujuan hakiki yang dijadikan target oleh para petani.
Kekalutan pada tahun lalu, kabut yang selalu menggumpal pada kalbunya sedikit terbuka oleh pantulan pantulan cahaya yang menyinari relung hatinya mulai tersibakkan.
Bekal berupa ilmu bagi petani sebagai tongkat kehidupan,itulah jawabnya…!! (Radita)
Mr Thomas & Nick Amstrong




Minggu, 11 November 2012

Petan Turun Gunung, Masuk Sekolah


Dimana bumi dipijak di situ kita berkarya,barulah langit dijunjung. mungkin kalimat inilah yang pas untuk sebuah kegiatan yang dilakukan  para petani dari makamenggit  sumba timur, sebab selama hampir satu tahun mereka mengikuti program pemberdayaan pertanian organik dari Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI.

Para petani tersebut turun gunung sekedar untuk berbagi kepada sekolah – sekolah di perkotaan dari mulai tingkat SMP hingga SMA. Mereka melakukan Safari organic.
Sejak  September lalu, Petani yang tergabung dalam Sekolah Lapang Pertanian Organik,SLPO Makamenggit. Dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional jatuh pada 24 september. Mereka mencoba berbagi tentang Pertanian dan Peternakan Organik, tujuan safari ini adalah  untuk mengenalkan pentingnya pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan, dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitar alam, tanpa memnggunakan bahan-bahan yang berbau kimia sisntetis.

“ Selain bahan yang dipakai murah dan mudah, ini sangat menguntungkan  bagi petani yang ada di kepulauan  seperti kami.’ kata Marteen djami, anggota SLPO Makamenggit.
“pola-pola demikian yang harus diketahui oleh para generasi, supaya nantinya tidak ketergantungan jika ingin terjun sebagai petani.” Tambahnya.

Safari Organik, dimulai  dari SMPN 1 Waingapu, hamper semua siswa mengikuti acara tersebut. Selain para sisiwa, gurunyapun tidak mau ketinggalan menyaksikan materi yang disajikan oleh petani dari Makamenggit.
“ ini sangat bermanfaat bagi siswa untuk menambah wawasan.” Ujar kepala sekolah SMPN 1 Waingapu.
Selesai acara banyak para guru mengaku menyesal tidak bisa ikut karena bertabrakan dengan jadwal mengajar, ahirnya mereka menyalin dari teman sesame guru  dan siswa. Seperti pembuatan pakan ternak organik yang disajikan oleh petani Makamenggit.
Acara selanjutnya Safari Organik dilanjutkan di SMA Kristen Payeti, Waingapu Sumba Timur. Dengan pemateri Markus Dendungara dan Rehabiam Kilimandu.
Markus  mengenalkan uji kadar mineral pupuk organik cair dengan pupuk kimia pada siswa dan para guru. Semua siswa  dari kelas 1 sampai kelas 3 berjumlah 900 0rang  menghadiri acara tersebut sampai tuntas.

“ Uji Kadar Mineral,UKM. Perlu dikenalkan sebagai perbandingan agar mereka mengetahui, bahwa pupuk organik hasilnya  tidak kalah dengan pupuk kimia buatan pabrik.” Jelas Markus.
Dra Yuliana Gala sebagai kepala Sekolah SMA Kristen, di ujung acara mengutarakan .”  Merasa  bersyukur kedatangan para petani yang mau berbagi ke Sekolah kami, sebab belum tentu  siswa yang sudah lulus dari sini nanti dilanjutkan semuanya, karena paktor ekonomi, jadi ini bisa dijadikan bekal.” Ujarnya.

“Malahan sebaiknya ada kerjasama lanjutan khusus untuk kelas tiga,program ini bisa mengurangi tingkat pengangguran supaya usai lulus bisa praktek langsung .” harapnya
Pengenalan pertanian organik di kota waingapu Sumba Timur, oleh SLPO Makamenggit dilaksanakan juga di Sekolah Menengah Kejuruan Negri satu, SMKN 1  Waingapu.
Menurut pendamping petani SLPO Makamenggit, dari Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI. Rahmat, “ Melakukan safari organik ke sekolah- sekolah di daerah  ini merupakan yang pertama terjadi  di negri yang disebut sebagai negara “Agraris”  sepanjang hari tani nasional diperingati."

"Ini merupakan moment yang tepat. Sebabnya generasi sejak dini harus dikenalkan pada generasi dampak bahaya pupuk yang berbahan kimia sintetis, bagi lingkungan dan kesehatan tubuh manusia.” Paparnya
Menurut Rahmat lagi." Materi yang disajikan para petani memperagakan ,seleksi benih padi model SRI, Pakan Ternak Organik,Pupuk organik cair dan pemanfaatan daun pisang sebagai tempat biji semai sayuran organik.
Acara Safari Organik berahir di SMPN 2 Rindi,jarak dari kota waingapu sekitar 70 km, kebetulan bertepatan dengan hari pangan sedunia  pada 5 oktober. Di sekolah tersebut juga dihadiri oleh para orang tua murid yang berprofesi sebagai petani.

Kepala Sekolah SMPN 2 Rindi, Drs Jack Mbuick  mengatakan “ Materi yang disampaikan oleh para petani sebaiknya masuk dalam muatan lokal di sekolah, karena ini berkaitan erat dengan lingkungan. Semoga ke depan bisa terlaksana.” Katanya.
Pendapat Ketua Gapoktan Kecamatan Rindi yang hadir dalam acara Safari Organik Di SMPN 2 Rindi, bercerita, jika semua petani dibekali dengan sumber daya manusianya, bukan hal yang mustahil kemandirian pangan akan terwujud, apalagi masuk dalam muatan lokal di sekolah, ini sangat bermanfaat.

Alam adalah tempat berpijaknya segala mahluk untuk berkembang biak, sudah seharusnya pertanian yang berbasis lingkungan dan kearifan lokal dikenalkan pada generasi sejak dini.(Radita)











Kamis, 08 November 2012

Petani Makamenggit: Berbagi Tidak Rugi









   
Pada bulan kemarin mulai tanggal 10 Agustus hingga 16- September 2012, Pemda Sumba timur mengadakan pameran pembangunan. Pameran diikuti oleh semua jajaran Dinas yang ada di Kabupaten Sumba Timur sebagai peserta pameran.

Tujuan pameran  biasanya memamerkan segala bentuk keberhasilan yang telah dicapai atau  memberikan informasi  yang belum diketahui  masyarakat luas oleh pemda setempat, agar masyarakatnya  mengetahui dan memahaminya. Inilah mungkin esensi yang harus  ditunjukan dalam sebuah pameran, yang bertajuk “Pameran Pembangunan” di Taman Hiburan Rakyat,THR. Yang setiap tahun diselenggarakan.

Namun ada yang aneh dari sekian peserta pameran tahun ini. Sebuah Desa  pada tahun 2011, ramai diberitakan oleh media sebagai salah satu Desa yang terkena bencana kelaparan atau rawan pangan. Turut berperan serta dalam pameran ini. 
    
“Kami sebagai petani dari kelompok Sekolah Lapang Pertanian Organik,SLPO Makamenggit,sebagai binaan IPPHTI mencoba ikut jadi peserta pameran dan sekalian berbagi dengan pengunjung mengenai  dunia pertanian mudah-mudahan bermanfaat bagi yang berkunjung ke sini,ternyata  tidak ada kelompok tani dari daerah lain, kami dengan biaya swadaya anggota, harusnya pemerintah memperhatikan petani dalam peristiwa seperti ini .” Tegas  Daud Duka selaku ketua kelompoknya.

SLPO Makamenggit, Desa Makamenggit , dari Kecamatan Nggaha Ori Angu adalah satu-satunya  kelompok tani dan Desa yang ikut serta dalam pameran di THR, Waingapu Kabupaten Sumba Timur  baru-baru ini.

“Begitu selesai membuat stand pameran, Kami keliling melihat – lihat ternyata peserta dari dinas semua, bentuk bangunan kami paling jelek, sedang  dari pemerintah bagus-bagus semua.” Ucap Bara kilimandu  salah seorang anggota kelompok SLPO Makamenggit ,sambil mengacungkan jari jempol tangannya.

Sekolah Lapang Pertanian Organik,SLPO Makamenggit. Merupakan dampingan Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia, IPPHTI ,  masuk dalam program pemberdayaan pertanian organik tahun 2012, untuk mengatasi kerawanan pangan. mengingat tahun lalu terkena bencana kelaparan.

“  Kami baru pertama kali ikut perhelatan seperti ini, pengalaman baru sebagai petani, sekalian hiburan.” Ujar Lukas Ledebili gembira

SLPO Makamenggit meski dengan bangunan yang sederhana, mereka memamerkan segala jenis yang bersifat organik. Seperti, pakan ternak organik, beras organik, sayuran organik, pupuk organik cair, pupuk organik padat.sekaligus melayani keluhan masyarakat petani.Singkatnya SLPO Makamenggit dalam pameran tersebut ingin menyampaikan pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan, bagi masyarakat Kabupaten Sumba Timur.

“Selain menjual karya anggota berupa hasil kebun, kami juga melayani konsultasi seputar dunia pertanian  dan peternakan organik kepada pengunjung, setelah pengunjung  menndengarkan penjelasan  yang mereka tanyakan pada kami, lalu mereka menulis di buku tamu, apakah pengunjung puas atas jawaban kami. Ini penting untuk mengukur kemampuan kami sebagai peserta program sekolah lapang dari IPPHTI, ini sebagai ajang latihan  medan tempur.” Cerita Amos Pariwana

“karena pameran nya lama jadi kami bergantian jaganya, dan sifatnya tidak asal jaga ,harus mampu menjelaskan  apabila ada pengunjung yang bertanya tentang pertanian organik.” Tambah Amos lagi

Dari penuturan Daud Duka selaku ketua SLPO Makamenggit. Dengan adanya pameran ini diharapkan anggotanya bisa berlatih memahami serta mampu menjelaskan kepada pengunjung pameran, mengenai pertanian organic selama mengikuti program sekolah lapang dari IPPHTI. Sebab nantinya  para peserta program sekolah lapang akan  diterjunkan sebagai petani pemandu bagi masyarakat  petani  lain di kabupaten Sumba timur khususnya dan NTT umumnya.
“Hari pertama pembukaan dikunjungi oleh istri bupati dan istri wakil bupati .semua sayuran anggota diborong oleh beliau-beliau, kemudian malamnya dikunjungi oleh Wakil Bupati Sumba timur, bapak Dr. Matius Kitu.” Ucap Mariana dengan bangga.
“Setiap malam Stand SLPO Makamenggit dikunjungi sekitar 10 orang, rata-rata mereka bertanya tentang tanam padi pola SRI, dan pupuk organik  dengan nutrisi ternak organik  dari jantung pisang,sebab hampir semua masyarakat memiliki ternak. Mereka kelihatannya cukup puas apa yang kami jelaskan, ini buktinya.”  Makahar djawaraey menjelaskan sambil menunjuk pada buku tamu, di buku tertululis pesan dan kesan pengunjung.

Pengunjung membubuhkan tulisannya.” Terimakasih atas penjelasannya, ini ilmu sangat bermanfaat, maju terus petani Sumba Timur.” Bunyinya.

“harusnya Pemerintah peka membaca keinginan dan kebutuhan masyarakat , buktinya banyak masyarakat petani yang bertanya , Ini menandakan bahwa masyarakat sumba timur haus dan lapar dengan informasi dan bimbingan mengenai pertanian, kami dari SLPO Makamenggit merasa bangga ikut pameran ini, karena mampu berbagi meskipun baru .” Kata Rongga Miting

“Sebaiknya tahun depan jika ada pameran lagi,meski ini sifatnya sebagai Taman Hiburan Rakyat setahun sekali. Lebih banyak kearah yang membangun masyarakat. Coba perhatikan justru arena perjudian yang lebih dikedepankan, dari tahun ke tahun selalu begini, namanya juga Pameran Pembangunan, bukan pameran perjudian.” Ucap Kahora setengah menyindir

Rehabiam kilimandu teman Kahora  sebagai anggota SLPO Makamenggit, lain lagi pendapatnya.” Kalau setiap pameran pembangunan, memamerkan hasil karya  andalan seperti pangan lokal masyarakat dari desa –desal kemudian ada penghargaan dari pemerintah, saya yakin akan tambah ramai sebab masyarakat merasa dihargai jerih payahnya.” Harapnya

Pameran telah berlalu. Sebuah Desa yang tadinya dilanda rawan pangan jika diperhatikan sumber daya petaninya (SDM) mungkin ceritanya akan lain .Ada setitik pengalaman bagi petani dari Desa Makamenggit yang turut serta dalam pameran. Ada kesimpulan yang diraih meski baru kali petama. Ada kepedulian buat sesamanya sekedar berbagi. Untuk kemajuan dan kemandirian tanah kelahirannya. Sakit ,pedih yang pernah dialami pada tahun lalu  akibat rawan pangan semoga tidak terulang kembali. Cukup lapar terahir hanya di Makamenggit(Radita)



















Rabu, 07 November 2012

“Kesaksian” Pada Temu Lapang Petani Sumba Timur




Petani merupakan sebentuk mahluk yang paling berjasa dalam hal menyediakan pangan untuk kelangsungan hidup manusia .Petani sebagai manusia yang cerdas saat  berada di lahan kebunnya, hanya petanilah yang memahami keadaan  alam yang akan dihadapinya, seperti kapan mulai musim kemarau, serta kapan akan  turun hujan. Namun sering kali kita selalu tak menghargai perjuangan para petani.
Sosok petani paling menyadari dan memahami bagaimana kondisi tanah , kondisi alam yang akan dihadapi dalam menyesuaikan pola tanamnya.
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya pada  hari sabtu ,tanggal 12 mei-2012. Sekolah Lapang Pertanian Organik,SLPO Makamenggit, Desa Makamenggit, Kecamatan Nggaha Ori Angu, mengadakan fielday atau temu lapang petani di lahan belajarnya, Desa Makamenggit.
Temu lapang petani dihadiri oleh Bupati Sumba Timur, Gideon MBilidjora, berikut jajarannya, awak media  dan para petani dari luar daerah Makamenggit, serta tokoh masyarakat setempat.
Diadakannya temu lapang petani untuk membuktikan  sampai sejauh mana  kemampuan para petani yang tergabung ke dalam program Sekolah Lapang Pertanian Organik, SLPO Makamenggit, yang di dampingi oleh Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia, IPPHTI.mendemontrasikan seluruh materi yang pernah diberikan selama mengikuti program tanam padi dengan pola  Sistem Of Rice Intensification, S.R.I.
Petani peserta program dari IPPHTI diwajibkan mendemontrasikan kepada pengunjung temu lapang, seperti. Paket Ekologi Tanah, seleksi benih pola SRI, persemaian padi pola SRI, system tanam padi pola SRI, pembuatan Mikro Organisme Lokal,MOL.pembuatan pupuk cair organik, pembuatan pupuk padat organic, sampai pembuatan pestisida nabati.
Bupati Kabupaten Sumba Timur, Gideon Bilidjora waktu itu mengatakan.”  Saya merasa bangga dan bersyukur serta kagum dengan hasil karya para petani, setelah berkeliling menyaksikan  peragaan yang diperlihatkan oleh mereka dari mulai percontohan tanam padi pola SRI dan pembuatan pupuk organik. Semoga dengan adanya program  ini membawa angin segar untuk kemajuan pangan di Sumba timur.” Ucapnya
“ untuk mengapresiasi perjuangan serta keuletan mereka, saya janjikan satu buah mesin air untuk kelompok petani SLPO Makamenggit.” Ucapnya lagi berjanji waktu itu.
Sementara, Ketua Umum Sinode Gereja Kristen Sumba,GKS Naftali djoru, mempunyai pandangan lain  dalam sambutannya. Waktu itu” Awalnya saya  menganggap program sekolah lapang dari IPPHTI seperti pelatihan biasa, namun karena sering berkonsultasi dengan peserta program, ternyata  program ini sangat luar biasa mampu merubah paradigma lama ke dalam paradigma baru bagi petani dan masyarakat sekitarnya, tadinya petani tidak tahu sekarang mereka mempunyai bekal dari program untuk bertani yang baik dan benar dengan segala unsur  yang dibutuhkan, inilah cikal bakal bagi para petani di Sumba Timur .”jelasnya.
Menurut  Kustiwa Adinata,sebgai koordinator IPPHTI Nasional ,dalam temu lapang petani di SLPO Makamenggit .” Semua petani yang masuk dalam program yang berjumlah 30 orang, dilatih dan dipersiapkan nantinya selain sebagai petani juga  harus mampu menjadi petani pemandu bagi petani yang lainnya di pulau Sumba. Tinggal bagaimana pihak pemda setempat menanggapinya.”
Sejalan dengan pemaparan  tujuan program  oleh Kustiwa , Orang nomer satu di Sumba Timurpun menanggapinya dengan positif.
“Nanti setelah teman –teman petani selesai  dalam program ini, akan kami perhatikan dan akan kami distribusikan dengan pihak dinas terkait, sebabnya tenaga mereka sangat kami butuhkan  untuk membangun dalam hal pangan  bagi kemajuan daerah ini.” janjinya ketika itu.
Temu lapang petani di Makamenggit meski berlangsung satu hari di bawah guyuran hujan saat itu, ditutup dengan kesaksian dua orang petani  peserta program Mariana dan Markus Dendungara.
“pertama kali masuk program ini awalnya  kami sangsi, sebab apa yang diajarkan oleh pendampingnya diluar kebiasan  dari nenek moyang , namun lama kelamaan mampu mengeser dan merubah pola pikir kami sebagai petani dan kami sangat menikmatinya, semoga melalului sekolah lapang ini kita tidak terkena bencana kelaparan lagi .” Ujar Markus Dendungara
Lain pendapat Markus ,berbeda pula dengan kesaksian Mariana .”  kami mewakili peserta perempuan sangat beruntung masuk program sekolah lapang  ini, sebab nantinya bisa membantu kebutuhan keluarga dan kami merasa bersyukur, namun  setelah selesai program ini mohon kepada bapak bupati untuk menindaklanjutinya demi Sumba Timur tercinta..!” Katanya bersemangat
Fielday atau temu lapang petani hanyalah sebuah kesaksian yang patut untuk diapresiasi  oleh segenap elemen masyarakat. Agar nantinya kabupaten Sumba Timur tidak terkena becana kelaparan lagi, seperti tahun tahun sebelumnya.
Mungkin temu lapang  hanyalah seberkas cahaya dan telah berlalu,mampu  untuk menyingkirkan kabut kegelapan yang selama ini menghinggapi petani kita, hinga  gagal panen yang berdapak pada bencana rawan pangan atau kelaparan.
Biarlah para petani menjadi dirinya sehingga lahan kebun ,sawah menjadi perpustakaannya, menjadi laboratorium alamnya, supaya mandiri tidak tergantung pada pihak manapun.
Pangan adalah yang utama, rakyat giji buruk kuncinya ada dipangan. Penduduk semakin bertambah membutuhkan pangan. Indikasinya jika pangan ingin berdaulat petani harus dibekali serta diperhatikan sumberdaya manusianya,SDM.
Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI. Masuk  dalam rangka pemberdayaan masyarakat tentang pertanian &  Peternakan Organik, untuk mengatasi rawan pangan di Kabupaten Sumba Timur. Bekerja sama dengan Sinode Gereja Kristen Sumba,GKS. 








Senin, 05 November 2012

Antara Manusia, Pantat Hewan , Biogas Dan Kompos











Manusia diciptakan dari sari pati tanah, setelah mengalami perpaduan antara sel telur dengan sperma, kemudian ditampung dalam sebuah wadah yang maha kokoh, namanya Rahim Ibu.
Hewan. terkadang manusia, memandang hewan hanya berkonotasi pada pengambilan atau pemanfaatan dagingnnya saja, padahal kotorannya pun  bisa digunakan untuk kelangsungan pertanian yang berkelanjutan.sebab tanah sebagai Rahim bumi membutuhkan tingkat kesuburan demi menjaga kelangsungan hidup tanaman. Tanaman ahirnya dikonsumsi oleh manusia dan mahluk-ahluk lainnya di muka bumi ini. Pada dasarnya Rahim Ibu dengan Rahim Bumi atau tanah hampir sama karakternya , ada yang subur dan ada yang tidak subur, artinya perlu diperhatikan.
 Dunia pertanian dan peternakan tak bisa dipisahkan, apalagi Hewan  sebagai mesin pencetak kotoran untuk kesuburan tanah yang mampu memenuhi kebutuhan dasar dan nutrisi tanaman. Kotoran hewan mampu memperbaiki sipat kimia dan biologis tanah, setelah diolah menjadi kompos sebab,  menyediakan kandungan unsur hara yang tinggi.Sedangkan bila petani menggunakan pupuk kimia sintetis dampaknya akan merusak kesuburan tanah, unsur hara dalam tanah akan mati. Pupuk kimia sintetis tidak ramah lingkungan , berbeda jauh dengan pupuk  alami hasil limbah biogas yang diolah jadi kompos. Baik padat maupun cair.
Karena ketidak tahuan serta terbatasnya wawasan masyarakat dalam penggunaan kotoran yang mampu dirubah menjadi BIOGAS RUMAH/ BIRU lalu limbahnya diubah menjadi kompos

.Maka, baru-baru ini pada tanggal 29 sampai dengan 3 nov 2012. Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Barat mengadakan Pelatihan BIOGAS dan KOMPOS.Dinas peternakan terkait berkolaborasi dengan HIVOS BIRU dan Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI.

Di Kabupaten Sumba Barat serta Kabupen lain di Pulau Sumba  ini memelihara ternak sudah membudaya secara turun temurun sebagai warisan dari nenek moyangnya.Namun pemanfaatan kotoran hewan  secara maksimal belum merata digunakan. HIVOS BIRU yang di komandani oleh Adi lagur, berikut Rahmat dari IPPHTI. Mencoba berbagi  dalam pelatihan ini.

Pelatihan diikuti oleh 30 peserta  selama  enam hari dari tanggal 29 hingga 3 november 2012. Di Waikabubak , Gedung aula Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Barat.
Peserta pelatihan dibagi ke dalam dua tahap, tahap pertama pelatihan Biru/ Biogas Rumah 15 orang dengan insruktur Adi Lagur dari HIVOS. Sedangkan materi pembelajaran Kompos 15orang, instruktur kompos, Rahmat dari Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI, dengan menyertakan seorang petani, Markus Dendungara dari Sekolah Lapang Pertanian Organik,SLPO Makamenggit, Kecamatan Nggaha Ori Angu Kabupaten Sumba Timur.Petani tersebut merupakan salah satu  binaan program  IPPHTI di Sumba Timur.

Ir. Petrus Tagu Bore, sebagai kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Barat yang mengomandani pelatihan ini, menyatakan “ Semua peserta merupakan ujung tombak kami dari dinas peternakan yang berhadapan  langsung dengan masyarakat di tiap kecamatan di Sumba Barat, semoga dengan adanya pembekalan ilmu ini mereka mampu menjawab serta mengajak masyarakat dalam  hal pemanfaatan kotoran hewan di medan tempurnya masing-masing.” Ujarnya
“Selama ini kotoran hewan melimpah, bahkan menjadi polusi lingkungan di masyarakat saat hujan turun. Jadi dengan adanya pelatihan  dari HIVOS BIRU dan IPPHTI, menjadi solusinya.” Ujarnya lagi

Berdasarkan data di lapangan yang memiliki digester biogas di Kabupaten Sumba Barat, baru satu orang yaitu kepala Dinas Peternakan Sumba Barat, Ir. Petrus Tagu Bore.
“hanya satu-satunya mungkin beliau yang punya biogas sebagai kepala dinas di Sumba Barat ini.” Kata Nimrot menguatkan atasannya
“ini sebagai bekal yang sangat berguna bagi peserta dan masyarakat sumba barat, sebab belum pernah ada pelatihan langsung praktek selama ini tentang kegunaan kompos dan biogas dari kotoran hewan, semoga setelah mengetahui caranya masyarakat cepat menuju sejahtera, melalui petugas-petugas kami di lapangan.” Kata Yulius, bagian Sumber Daya Manusia, SDM . Dinas peternakan Kabupaten Sumba Barat.

“BIRU atau biogas Rumah sebagai energi terbarukan sangat membantu kebutuhan keluarga, sebab posisi biogas mampu menggantikan kebutuhan bahan bakar minyak tanah  juga berfungsi untuk penerangan dalam ruangan . dengan adanya biogas yang dihasilkan dari pantat hewan melalui digester yang dibangun ,  masyarakat akan mampu menghemat sekitar 80 % dalam hal pemenuhan bahan bakar untuk memasak.” Jelas Adi Lagur dari HIVOS BIRU
selain mendapatkan materi teori, peserta diajak berkunjung ke digester yang telah dibangun dan dimanfaatkan. Ada 7 orang peserta yang siap membuat digester, sekarang sedang menyiapkan matrialnya.” Jelas Adi lagi menambahkan
Manfaat biogas:
1. untuk memasak menggunakan satu kompor biogas diperlukan 400ltr per jam gas bio
2. untuk penerangan menggunakan satu lampu gas diperlukan 100 - 150 ltr per jam gas bio
3. Membangun satu unit biogas sebanding dengan menghemat lebih kurang 2.5 ton kayu bakar per tahun. dan dari observasi perhitungan konsumsi kayu di Sumba kenyataanya masyarakat mengunakan kayu bakar lebih kurang 7 ton setiap tahunnya per keluarga.
4. WC dapat disambungkan ke bio-digester tentunya ini untuk sanitasi lingkungan.
5. Pupuk organik. - satu unit digester dapat memproduksi 4 ton pupuk kompos kering setiap tahunnya
6. CO2 reduction (pengurangan co2). satu unit digester dapat menekan 4 ton emisi co2 pertahun.
Biogas sebagai energi  terbarukan  sangat bermanfaat untuk masyarakat di manapun berada, terutama yang tinggal di pelosok pedesaan khususnya petani. Sedangkan limbahnya bisa diolah sebagai kompos untuk kebutuhan pertanian, baik pupuk padat maupun pupuk cair.
Intinya, baik petugas maupun petani atau peternak harus dibekali dan diperhatikan Sumber Daya Manusianya.
Bangunlah Badannya…..
Bangunlah Jiwanya…….
Untuk Indonesia Raya……..
Semoga Tanah sebagai Rahim Bumi di pulau Sumba tambah subur,  dengan adanya  langkah nyata melalui pelatihan ini menjadi  satu jawaban pasti serta solusi untuk memandirikan dan memerdekakan petani…!
(Radita)



Minggu, 04 November 2012

GILA = Gerakan Insani Lestarikan Alam





Hijaukan lingkungan hijaukan dulu batin  rakyatnya
Karena alam nyata adalah logika
agar jiwanya tidak kering, kerontang. gersang
Hijaukan  lingkungan  kenyangkan  dulu  masyarakatnya
Sebab pangan lebih utama
Tetesan doa ibarat air dan embun pagi
Kita orang gila
Gila orang kita
kalau tidak gila
itu bukan kita
jooooosssss ....!!! (Jangan Omong Saja)
(Radita)


Sabtu, 03 November 2012

Pemanfaatan Kotoran Ternak Di Pulau Arwah



Pulau Sumba  karena terkenal  dengan  makam kuburnya yang terbuat dari batu-batu besar hasil pahatan tangan untuk menandai serta mengubur jenasah merupakan warisan budaya leluhur sejak jaman megalitikum hingga kini , sehingga disebut sebgai Pulau Arwah.
Sebagaian besar masyarakatnya  hampir 100 % memelihara ternak, seperti Babi, kuda, sapi, kerbau dan hewan lainnya. Ternak tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang-orang Sumba sebab selalu dibutuhkan saat menghadapi acara adat , untuk pembayar mahar atau Belis ketika melamar seorang gadis yang akan dijadikan sebagai istinya, ternak adalah keharusan  yang sudah turun temurun.
Selain itu Pulau Arwah ini juga sebagai Lumbungnya ternak, kebutuhan daging nasional sebagian  dipasok dari pulau ini. Masyarakat  Sumba selain memelihara ternak disekitar rumah ada juga ternak-ternak yang dilepas dipadang savanna yang luas.

Baru-baru ini pada tanggal 1 dan 2 november 2012. Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia, IPPHTI. Diundang oleh Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Barat untuk mengadakan pelatihan Kompos.
Pelatihan diikuti oleh 15 peserta  sekabupaten sumba barat, mereka yang hadir sebagai Pimpre (pimpinan Resort,) setingkat polisi sektor dari tiap kecamatan di Kabupaten Sumba Barat.
Menurut Kepala Dinas Peternakan Sumba Barat, Ir.  Petrus Tagu Bore.”  Peserta yang dilatih merupakan ujung tombak  di lapangan yang berhadapan langsung dengan Masyarakat, Kami merasa beruntung bisa bekerja sama dengan Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia, IPPHTI  dalam pelatihan ini.Semoga tahun depan mampu bekerjasama kembali ” Katanya berharap.
“Awalnya Kami hanya mendengar bahwa di Kabupaten Sumba Timur ada pemberdayaan masyarakat tentang Pertanian Organik,di Makamenggit, lalu mengutus salah seorang staf untuk menghubungi narasumbernya sehingga  ahirnya pelatihan bisa terlaksana.  Kotoran ternak di sini melimpah harus dimanfaatkan, ini modal besar bagi kabupaten Sumba Barat.” Tambahnya lagi.
Pelatihan berlangsung selama dua hari.Di Waikabubak, Sumba Barat, instruktur dari IPPHTI serta mengikutkan instruktur dari petani SLPO Makamenggit, Markus Dendungara, salah seorang petani Dampingan IPPHTI dari Desa  Makamenggit, kecamatan Nggaha Ori Angu, kabupaten Sumba Timur.
Materi pelarihan yang diberikan meliputi pembuatan MOL (mikro organism lokal) sebagai bahan pengurai kompos , lalu praktek pencampuran kotoran ternak dan hijauan sebagai bahan kompos, lokasi praktek di Waikabubak, Rumah Potong hewan, RPH . Dinas Peternakan Sumba Barat.


“ Kami kaget  tak mengira setelah melihat  demo perbandingan dalam uji kadar minral yang diperlihatkan oleh IPPHTI, antara pupuk organik dengan pupuk kimia pada hari pertama. Ini sebagai penambah wawasan untuk  keyakinan peserta saat mereka bertugas berhadapan dengan   petani dan peternak di pelosok – pelosok , kemudian bahan yang dibutuhkan tidak sulit , mudah didapat” Cerita Alvian kosi S.Pt.  sebagai ketua panitia penyelenggara pelatihan.
“Materi yang diberikan juga   mudah dicerna, karena lebih banyak ke prakteknya jadi kami sebagai peserta sangat mudah memahaminya,mengingat  bahan-bahan bisa dilihat dan dirasakan langsung. Ini ilmu yang dahsyat, bekal kami dilapangan.   sekembali dari sini akan praktek langsung dengan  masyarakat dan JOOOOSSS  (Jangan Omong Saja)….!  “ ujar  Hasti salah seorang peserta perempuan  dengan semangat, yang mewakili daerah lamboya, kabupaten Sumba Barat.
Sesungguhnya Peternakan dan Pertanian merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, satu sama lain saling mendukung, keterkaitan.Kompos sangat cocok untuk berbudidaya tanaman karena memiliki kapasitas mengikat air, selain mampu memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah, seperti di pulau Arwah ini derngan kondisi alam kemarau lebih panjang Sudah waktunya baik pemerintah pusat maupun daerah memposisikan petani /peternak sebagai subyek bukan sebagai obyek, supaya  ketika menghadapi setiap musim tanam petani tidak selalu ketergantungan. (Radita)