Jumat, 22 Agustus 2014

Berkoordinasi Dengan Pemangku Kebijakan Pusat

Bersama Dirjen Bangda Kemendagri :Bp Sigit Widodo Pudjianto SH,MPH.
 Dalam memberdayakan masyarakat agar mampu sejahtera,banyak jalan yang bisa dilakukan,walau hal ini sering menemui kendala baik dari pemangku kebijakan maupun kendala langsung di lapangan.
inilah yang harus dipahami oleh semua elemen masyarakat,bahwa mencapai kesejahteraan tidak semudah membalikan telapak tangan,artinya butuh proses.

Bersama Direktur Winrock Internasiona : Bernard &Pemda SumbaTimur
Terkadang saat membimbing sebuah program yang sedang dijalankan butuh keuletan ,terlebih menghadapi masyarakat baru.bagamana membongkar masalah menjadikan sebuah potensi bagi masyarakat itu sendiri.Dari mulai pendekatan budaya,karakteristik masyarakat setempat hingga mampu merubah paradigma agar tumbuh berkembang.

Memahami terklebih dahulu kultur yang ada di masyarakat merupakan awal substansi bagi terbentuknya pendekatan pada warga yang akan diberdayakan..

Baru-baru ini tanggal 20 hingga 22 agustus 2014,diadakan Lokakarya dengan tema :Rapat Koordinasi Kementrian Pemerintah Daerah dengan Winrock Internasional,yang bertempat di Hotel Orchadz Jakarta.
Adapun Peserta yang diundang adalah : Para Pejabat Bina Bangda Kemendagri bagian Ekonomi Daerah,Peserta dari kalimantan Selatan, Pemda Sumba Timur serta konsultan Pertanian (saya).dari winrock Internasional bagian Pulau Sumba,NTT.

Dalam paparan Dirjen Bina Bangda Kemendagri Bpk Sigit widodo Pudjianto,SH,MPH. bahwa masyarakat berhak mendapatkan kesejahteran melalui pemberdayaan dari berbagai lembaga ,baik pemerintah maupun non pemerintah atau NGO (Non Govermen Organisation) yang diwakili Winrock Internasional.

Rahmat Adinata,Nenden M, Lukyta 21/8/14
Hasil rumusan dari lokakarya tersebut adalah menekankan pentingnya kerjasama lembaga asing (LSM) Internasional  dengan pemerintah pusat,daerah serta masyarakattyang diberdayakannya. selain itu adanya evaluasi serta dokumen cerita sukses dan hambatannya dalam pemeberdayaan.

Diharapkan dengan adanya Evaluasi dan dokumen di atas akan mampu memacu pada daerah-daerah untuk menuju perubahan yang signifikan.

Inilah mungkin harapan dengan adanya lembaga swadaya Masyarakat Internasional akan membantu dalam pelaksanaan peningkatan Sumber daya Manusian dengan inovasi-inovasi baru bagi masyarakat Indonesia.
Pak Daniel,Bernard Castemard dan Pak Bargam
Jajaran Pemda Sumba Timur
Rahmat Adinata,Hotel Orchardz Jakarta,22/8/14








Selasa, 19 Agustus 2014

“Jiwa Yang Organis”



Butuh referensi untuk menerjemahkan semua yang terdapat pada alam.penuh misterius. Namun ada kalanya kita juga sering sembrono dalam menghadapinya,hingga menghukum diri kita sendiri. 
 
Ada aturan aturan yang tidak tertulis pada alam, ada kaidah yang harus dipatuhi, ada dampak yang sangat fatal bila kita melanggarnya. Itulah alam yang melingkupi kehidupan kita.

Tanah ,air dan udara adalah raga dan napasnya.Tumbuhan dan reruputan merupakan rambut penyekatnya. Namun apakah kita sadar? Atau selebihnya kita malah takabur tak pernah bersyukur?

Mungkin kita tak menyadari akan kembali suatu saat melebur dengan tanah atau dihanyutkan oleh air yang mengalir,atau lebih dahsyiatnya disapu tebangkan oleh angin.

Dari titik akan menjadi garis itulah kehidupan yang selalu menantang kita untuk berubah. Berjuang demi menjaga alam yang ada untuk keseimbangan.

Pemahaman tentang alam harus dipahatkan pada generasi yang akan datang sebagai pewaris,sebagai penerus tahta dan sebagai pejuang untuk menjaga alam.

Semestinya kita sadar dan dipaksa untuk menyadari perlunya kelestarian alam agar segala sesuatu menjadi seimbang tanpa melanggar atau merusaknya.

Untuk itu dibutuhkan jiwa-jiwa yang organis dalam melestarikannya,sebab dengan perlakuan itu berarti kita mensyukuri nikmat dari pencipta semesta alam.

Hindari dan perangi jiwa-jiwa serakah yang akan merusak alam dengan cara mengeksploitasi isinya demi memenuhi kepentingan duniawi.
Mari kita menjaga serta memanfaatkan alam ini dengan bijak.........



(Rahmat Adinata,Waingapu 19/8/14)
















Senin, 18 Agustus 2014

Petani Harus Dicerdaskan

bisa dijadikan sebagai laboratorium alam
..
Pendampingan merawat tanaman
Memasuki usianya yang ke 69 tahun , sepertinya tidak banyak berubah dalam skala ekonomi,justru yang menonjol adalah tingkat kejahatan korupsi semakin merajalela,ini mungkin salah satu sebab hingga ekonomi negara ini tidak maju.Padahal tindakan untuk mencegah korupsi sangatlah dahsyiat

dengan dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi,KPK.
Dalan tatanan kemajuan ekonomi berdasarkan data dan laporan pidato presiden Susilo Bambang Yodoyono pada tanggal 16 Agustus 2014,Indonesia masuk urutan ke 16 besar di dunia. sungguh ironis pernyataan tersebut jika kita melihat pernyataan Bapak Presiden,bila melihat kenyataan di Desa-desa terpencil,dimana masyarakat masih merindukan dan ketergantungan terhadap beras raskin. di mana letak pendidikan kita masih tertinggal jauh dengan negara lain.
Pendampingan langsung di lapangan
Bisa sebagai terafi jiwa
Kita semua mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara "Agraris" di mana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani yang menghasilkan pangan bagi bangsanya, Namun ini juga lebih ironis nasibnya .Posisi petani selalu dijadikan obyek,alasannya meski sebagian besar petani dan tinggal di Desa,sebagian besar kebutuhan pangan masih mengandalkan kiriman dari negara luar.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) nasional,terhitung dari bulan januari -Nopember 2013 ada 29 bahan pangan yang dikirim dari negara luar dengan nialai total Rp. 100,4 triliun..
Sesungguhnya lautan kita sangat luas bisa menghasilkan garam ,sayang memang garam pun masih diimpor.Tanah kita sangat subur,iklim sangat mendukung,penduduknya sebagai pekerja keras. namun urusan pangan saja masih mengandalkan negara luar.
Anggaran untuk bidang pertanian tidaklah sedikit setiap tahun mengalir dari pusat ke daerah. mengingat selalu salah sasaran maka tidak mengherankan kurang berhasil dalam meningkatkan pangan.Keberadaan Petugas Penyuluh Lapangan Pertanian pun tak mampu berbuat banyak  terhadap kinerja para petani di Desa,hanya menghabiskan anggaran saja.
Tempat idaman petani
Inilah kenyataan yang harus segera dirubah sistemnya,bila tidak negara kita akan semakin tergantung dalam pangan, nasib petani semakin terpuruk keberadaannya.

Solusinya
Sejak Indonesia merdeka yang namanya swasembada pangan baru satu kali  pada tahun 1986,itupun didorong dengan pemakaian pupuk kimia yang berdampak buruk terhadap lingklungan,setelah itu harapan ingin swasembada pangan tinggalah harapan..
tujuan ahir bertani; Panen
Seharusnya jangan bicara atau menargetkan Swasembada pangan terlebih dahulu jika para petaninya tidak dibekali dengan Sumber Daya Manusianya,SDM. atau sistem yang ada belum dibenahi sehingga akan merugikan rakyat termasuk posisi petani lokal.
Sebaikanya pemerintah merubah sisitem dengan memberikan pendampingan langsung kepada para petani di Desa desa,agar petani mampu mandiri dalam menghadapi masalah ,agar petani menjadi pemimpin di lahannya semdiri.
Sebab melalui pendampingan atau lebih kerennya Sekolah Lapang,SL Petani akan menggali dan belajar banyak di alam terbuka sebagai perpustakaan alam sekaligus sebagai laboratorium alamnya sendiri.
Swasembada pangan adalah target ahir,setelah petani dicerdaskan,setelah petani mandiri dalam bibit ,berdaulat dalam pupuk dan setelah para petani Indonesia mendapatkan hak-haknya sebagai petani sehingga menjadi tuan di rumahnya sendiri.
ya semoga.......Jayalah Petani Nusantara........hingga negri Adraris jadi nyata.....

(Rahmat Adinata,Waingapu 19/8/14)






















Jumat, 15 Agustus 2014

Jejak Masa Silam Bersama PERSIB Bandung

 
Di Medan Lolos 8 besar 2001

Pemain PERSIB penyelamat dari degradasi 2002

Di Garut 2014 / 1435 H
Narsis di Surabaya


Saat latihan persiapan Kompetisi LIGINA 2001 di Pangandaran ,pelatih Marek Lezenovski


Bersama Pemain Chile 2002 awal  Liga DUNHIL

Kamis, 14 Agustus 2014

IPPHTI : Dulu Gersang Kini Anugrah Di Sumba Timur

Hasil dari perjuangan menyiasati alam
 Alam penuh misterius itulah sebuah ungkapan yang membutuhkan referensi bagi orang-orang yang mau berpikir. Semua makluk hidup yang diciptakan oleh pengusasa semesta ini berada di alam.

Memberikan solusi bagi petani
Secara logika keberadaan atau kondisi alam di Kabupaten Sumba Timur sangatlah ekstrim akibat dari panas yang terik dampak dari  matahari panjang ,sehingga beakibat  pada tingkat kekeringan yang tinggi .maka tidak mengherankan hampir padang-padang rumput mengering dan berubah warna , Tanah-tanah retak sebab penguapan yang tinggi, sedangkan musim hujan hanya sebentar saja,terhitung mulai bulan januari hingga puncaknya pada bulan April,namun itulah keberadaan alam kadang selalu berubah-ubah iklimnya.Hanya yang pasti kondisi di Sumba Timur sangat berbeda dengan Kabupaten lainnya yang berada di Pulau Sumba.
Mendapatkan pemahaman adalah hak petani juga

Kondisi demikian tentu saja tidak cukup dengan hanya mengeluarkan tarikan napas sebagai keluhan. harus berjuang keluar dari kesulitan yang membelenggu serta mengubajnya sebagai anugrah dari Sang Pencipta.

Disaat kita mengajak untuk berkumpul pada masyarakat demi keluar dari kesulitan ini tidaklah sulit,namun jangan mengganggap enteng. sebab bebrbagai strata sosial harus menyatukan alam pikirannya dalam menyiasati alam ini.

Alam sudah menyediakan segalanya
"Awalnya mereka bingung harus dimulai dari mana dan bagaimana caranya pengolahan lahan ini agar bisa berdaya guna bagi masyarakat." Ungkap Heirich Dengi warga Kalu yang menggerakan pemanfaatan lahan gersang ini.

"Masyarakat bukan malas namun lebih karena mereka tidak mengetahui caranya." ungkapnya lagi
Merawat dengan hati
Terkadang jika mau jujur keberadaan negara kita yang katanya sebagai negara "AGRARIS" tidak mampu berbuat banyak dalam pemenuhan kebutuhan pangan bagi penduduknya, sebab hampir sebagian besar kebutuhan pangan dalam negri dipasok dari negara luar.

Inilah mungkin substansi yang sebenarnya,bahwa masyarakat petani perlu dibekali pengetahuannya,bahwa posisi petani harus dimanusiakan,posisi petani harus dimuliakan dengan segala hak-haknya.
Pertumbuhan yang bagus sebagai balasan alam
Begitupun dengan kondisi masyarakat di Kabupaten Sumba Timur,Sebagian besar mata pencahariannya  sebagai petani.harus ada perubahan dalam membimbing petani dalam memberdayakannya.

Bisa dijadikan sebagai terafi jiwa
"Sebetulnya areal pertanian di Kabupaten Sumba Timur paling lusa bila dibandingkan dengan Kabupaten lain,namun sepertinya kita jalan di tempat." Ujar Heinrich Dengi, seperti menyesalkan daerahnya.

Dalam mengantisifasi alam yang ada .Awalnya tanah dengan kondisi gersang seperti tak akan memberikan kehidupan,namun dengan mencerdaskan lewat pemahan kepada masyarakat petani dengan sendirinya alampun akan membalas akan perjuangan dan jerih payah kita.

"Seperti mimpi jika ingat tiga bulan lau kemudian melihat kenyataan sekarang.dimana sayuran organik tumbuh hijau." kata Umbu Rihi, mengenang perjuangannya.

Alam penuh misterius itulah tanda -tanda bagi orang yang mau berpikir.



(Rahmat Asinata,Waingapu 14/8/14)

























IPPHTI :Tanah Gersang Jadi Anugrah Di Sumba Timur


 Sekelompok ibu-ibu suatu sore berkumpul untuk berdiskusi,bagaimana memberdayakan tanah yang ada di sekitarnya Tentu saja berbagai pendapat muncul ada yang setuju dan ada pula yang protes tidak setuju.
Bagaimana mungkin mengolah lahan yang kering,gersang bisa menghasilkan pertanian yang bagus? inilah kecamuk dalam bathin mereka. Namun disisi lain kebutuhan untuh pemenuhan gizi bagi keluarga tidak bisa ditunda, bagaimanapun caranya tanah yang gersang mampu menghasilakan. itulah isi diskusi sekelompok ibu-ibu di Kalu Kelurahan Prailiu,Kecamatan Kambera Kabupaten Sumba Timur,NTT.

Kemarau yang panjang melanda Kabupaten Sumba Timur sudah menjadi hal yang biasa bagi ibu-ibu ini,walau panas terik yang menyengat namun diskusi harus menghasilkan keputusan.

Ahirnya diambil kesepakatan,bahwa tanah yang selama ini dibiarkan mengganggur akan diolah secara bersama untuk berbudidaya sayuran organik,dengan berbagai jenis sayuran yang akan ditanam sesuai dengan keinginan masing -masing anggota kelompok.Sore itu juga lahan dibersihkan sebab rencananya akan diolah dengan segera..

"Lahan ini tidak pernah dimanfaatkan  padahal posisinya ada di bibir sungai Payeti ,jadi air sekedar untuk menyiram sangat mungkin dilakukan." jelas Heinrich Dengi sebagai penggagas gerakan ini.

Dua bulan telah berlalu sejak diskusi,kini lahan kebun itu hijau dengan berbagai jenis sayuran.padahal dulunya tak ada satu batang jenis pohonpun yang tumbuh,hanya dipakai sebagai tempat mengikat ternak penduduk.

"Sekarang setiap pagi dan sore ramai ibu-ibu menyiram tanaman,biasanya kala sore hari mereka hanya kumpul ngerumpi atau cari kutu secara bersamaan. ini sebuah perubahan besar di masyarakat dengan adanya kemauan mereka.." Heinrich Dengi menjelaskan dengan bangga.

"Sebagian yang garap sudah menikmati hasilnya,selain bisa konsumsi sendiri,bisa jual ke masyarakat sekitar.Mereka datang langsung ke kebun." ujar Mama Resti menceritakan pengalamannya.


(Rahmat Adinata,Waingapu 14/8/14)






Rabu, 13 Agustus 2014

Kami Petani Bukan Sekumpulan Orang Malas…




SUATU pagi tepatnya 18 Agustus 2011, sekitar jam 07.00 WIB di udara masih sangat dingin. Secangkir kopi panas masih seperti biasanya menjadi teman sebatang rokok. Headline Stasiun Metro TV kala itu mengagetkan saya yang sementara duduk di sebuah balai – balai yang terbuat dari bamboo Kampung Suka Lilah, Desa Suka Manah, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 
“Akibat bencana kelaparan, ribuan jiwa anak – anak petani di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur dilanda gizi kurang. Untuk memenuhi kebutahan pangan, para petani setempat terpaksa mengkonsumsi IWI salah satu jenis ubi hutan yang beracun….” Sepenggal kalimat yang dibaca oleh sang presenter membuat bulu kuduk merinding seirama hawa dingin pegungan di Pengalengan yang menyentuh kulit, menembusi pori – pori hingga ke tlang sum – sum kala itu.
Berita yang sama juga menghiasi Harian Nasional Kompas dan sejumlah media nasional lainya. Beritapun saat menyimak portal berita online http://kupang.tribunnews.com/ yang menyajikan ulasan tentang kondisi kehidupan para petani di Sumba Timur. Bencana kelaparan yang melanda sesame kaum petani menghiasi halaman – halaman utama sejumlah media masa. Sebagai seorang petani, rasa iba mengiris hati ketika melihat gambar anak – anak kaum petani yang kurus dengan tulang rusuk mereka yang hanya dibungkusi kulit keributnya terlihat jelas.
Bersama empat orang rekan team yang di utus oleh IKatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), kami mengunjungi Sumba Timur pada awal September 2011. Tanah yang tandus…. Begitutulah kesan awal saat menyaksikanhamparan tanah yang gersang dan bersavana, terlihat menghitam karena aksi pembakaran. Hawanya sangat panas, berbeda jauh dengan tanah pengalengan yang terkenal sangat dingin.
Singkat cerita survai awal untuk membawa misi kemanusian bagi sesama petani di daerah selesai. Hasil observasi, struktur tanah yang didukung oleh kekayaannya sangat potensil untuk pengembangan sektor pertanian demi perwujudan ketahanan dan swasembada pangan. Tapi pertanyaannya kenapa petani di daerah ini harus dilanda bencana ya? “Petani di daerah ini malas Mas. Orang Sumba itu malas kerja jadi tidak heran kalau dilanda bencana kelaparan,” sungguh sebhuah kalimat yang memalukan dan sangat menyakitkan. Sembilan dari 10 petugas penyuluh lapangan pertanian, yang kami temui mengtakan hal yang sama. Padahal latar belakang mereka rata – rata adalah sarjana hukum, sarjana sosial dan tidak ada yang lulusan ilmu pertanian. Tidak tau megang nyangkul tapi cepat sekali menstigma kaum ku sebagai kumpulan orang malas, yang benar saja petugas PPLP pemerintah ini.
Sekembali dari Sumba Timur, laporan hasil survai kami dilapangan mendapat restu dari pengurus IPPHTI Bandung untuk membawa misi kemanusian ke daerah ini. Kami datang tidak membawa bantuan tanggap darurat tapi mencari dulu akar persoalannya di mana sebelum menyalurkan bantuan. Hasil analisa data2 kami ternyata Sumber Daya Petani yang masih lemah. BUKAN KARENA PETANI MALAS seperti stigama yang diberikan oleh para PPLP itu bagi sesama kaumku, para petani di Sumba Timur…
Logikanya sederhana, kalau petani malas seperti stigma para PPLP pemerintah itu berarti kaumku, sesama petani di daerah ini tidak akan mau lagi untuk bekerja. Tapi faktanya, sekalipun hasil panen sedikit tapi mereka tetap berusaha untuk mencangkul sehertare. DASAAAR PPLP pemerintah, megang cangkul aja gak tau tapi berani sekali bilangin sesamaku adalah kumpulan orang malas. Petani Sumba Timur bukan kumpulan orang – orang malas seperti kata para PPL itu. Saya sudah buktikan itu, ilmu pertanian organik dengan pola bertani Sistym Rice of Intesification sudah meningkatkan hasil panen. Tanam satu, menghasilkan 98 anakan padi varietas ciherang. Sedangakan varietas infari 13 dan 10 rata – rata 70 anakan padi. Pasca panen, tanah harus dioptimalkan dengan tanaman palawija organik. Sesama kaumku para petani di daerah ini suatu saat akan maju seperti kami di Pengalengan. Masih layakkah sahabat – sahabat petaniku di Sumba Timur disebut malas? Silakan direfleksikan sendiri, Salam organik, JOOOOS!!!!! (Jangan Omong Saja...!)




(Rahmat Adinata,10/8/14)