Dua alamat facebook di dunia maya
beberapa bulan terakhir ini telah mewarnai diskusi-diskusi tentang Sumba.
Bagi facebookers, biasanya anda dikenali dari atributnya berupa pribadi atau
kelompok diskusi. Tetapi atribut yang ini bukan sekedar atribut biasa, dari
namanya mengantar kita pada sebuah gambaran visioner tentang bagaimana Pulau
Sumba kedepannya dalam konstelasi Regional, Nasional bahkan Internasional.
Kedua atribut ini mengajarkan sesuatu yang membumi pada alam Sumba, realistis
dan bisa dilakukan (applicable). Atributnya sungguh menginspirasi, bahkan
dari postingan yang diunduh inspirasi ini telah menghasilkan produk-produk
yang sudah bisa dinikmati pada tingkat individu maupun kelompok kendatipun
masih dalam lingkup terbatas.
Sumba Pulau Energi Terbarukan dan Sumba Pulau Organik merupakan dua atribut
dimaksud yang juga adalah identitas program. Program pertama diinisiasi oleh
Hivos sebuah NGOs internasional Belanda yang bekerjasama dengan Kementrian
ESDM dan Pemda Sumba kemudian program kedua, diinisiasi individu- individu
yang mencurahkan minatnya pada isu tersebut. Nampaknya, kumpulan
individu-individu ini pun sudah meluas menjadi beberapa kelompok yang mulai
menyebar pada wilayah Sumba. Sepengetahuan penulis, sebut saja diantara
inisiator utamanya seperti Pak Rahmat Ipphti dan Pak Heinrich Dengi. Entah
siapa lagi para inisiator dan champion dibalik program-program
tersebut, adakah diantara kita yang pernah berpikir pesan dibalik dua nama
aribut di atas dan produk-produknya? Ketika merenung saya langsung tertuju
pada sebuah nilai yang selama ini mudah diucapkan dalam forum-forum formal
namun miskin tindakan nyata yaitu, pembangunan yang berkelanjutan (sustainable
development).
Sumba Pulau Organik mengingatkan kita pada buku berjudul Silent Spring
(Musim Semi yang Senyap) ditulis Rahel Carson (1962) yang membahas tentang
dampak buruk penggunaan pestisida DDT secara berlebihan (sporadic)
yang dilepas ke biosfer, tidak saja mampu membunuh serangga, tapi juga
menerobos rantai makanan melalui populasi makhluk hidup lainnya yang kemudian
dikonsumsi manusia dan pada akhirnya menimbulkan berbagai penyakit dan
kematian. Paralel dengan peringatan Carson, program Sumba Pulau Energi
Terbarukan juga mengingatkan kita pada peringatan kelompok Roma 42 tahun
silam melalui bukunya “The Limits to Growth” (Meadows,1972). Buku ini
berupa seruan moral untuk mengatasi ketamakan manusia dalam memenuhi
kebutuhannya. Kebutuhan
manusia yang tidak terbatas karena
dorongan pola hidup (gaya hidup), telah mendorong manusia melalui berbagai
pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi mengeksploitasi alam secara
berlebihan. Akibat eksploitasi yang tidak terbatas mengancam kehidupan
manusia sendiri, dimana telah terjadi penurunan daya dukung alam yang tidak
bisa mengikuti tingkat kebutuhan manusia (pertumbuhan manusia). Tantangan
utama yang dihadapi dunia saat ini adalah; industrialisasi yang makin
cepat, pertumbuhan penduduk yang makin cepat, kurang gizi yang merajalela,
makin susutnya unrenewable resources dan lingkungan hidup yang makin rusak.
Tidak bisa dipungkiri bahwa seruan kerisauan puluhan tahun silam sudah
menjadi bagian dari realitas kehidupan kita saat ini.
Kemandirian dan Keberlanjutan
Kedua program ini tidak saja
mengajak kita untuk berefleksi pada pesan-pesan moral dari kedua buku diatas,
tetapi juga membawa pesan lain yang relevan dengan situasi dan kondisi kita sebagai
warga Sumba. Yaitu sedang mengajak dan mengajari bagaimana membangun sebuah
kemandirian dengan cara mengenali dan mengelola potensi sumber daya yang
dimiliki, namun selama ini tidak dikelola secara optimal karena persoalan
keterbatasan sumber daya manusia maupun kebijakan pengelolaan yang tidak
tepat.
Berbicara tentang sektor potensial
di Sumba, maka sektor pertanian masih menjadi sektor utama yang dapat dilihat
dari kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDRB). Contoh kasus Sumba
Timur, menunjukkan sektor pertanian (pertanian, perkebunan, kehutanan dan
perikanan) menjadi sektor utama yang significant kontribusinya
terhadap PDRB. Kendatipun menunjukkan trend yang menurun dari tahun ke tahun
dibandingkan pada satu dekade lalu masih bisa mencapai 40an persen terhadap
PDRB, namun beberapa tahun terakhir ini trend kontribusinya menurun pada
kisaran 30an persen. Trend ini merupakan fenomena umum yang terjadi pada
semua daerah di Indonesia akibat modernisasi berbagai sektor perekonomian
sehingga terjadi peralihan ke sektor lainya seperti sektor jasa.
Kendati demikian, untuk kasus Sumba dan Sumba Timur khususnya sektor
pertanian masih tetap menjadi tulang punggung perekonomian yang belum
tergantikan oleh sektor lainnya. Sebab, dari 101.711 total jumlah angkatan
kerja di Sumba Timur, ada 68.03 persen penduduk yang saat ini sementara
bekerja di sektor pertanian (Sumba Timur dalam angka, 2012). Sayangnya,
jumlah tenaga kerja yang dominan tidak proporsional dengan produktivitasnya
jika dilihat kontribusinya terhadap PDRB dibandingkan dengan sektor bangunan
dan konstruksi, perdagangan, jasa dengan jumlah tenaga kerja lebih sedikit
tetapi kontribusinya besar terhadap PDRB (tabel 1).
Lantas apa relevansinya
fakta-fakta di atas dengan program Sumba Pulau Energi Terbarukan dan Sumba
Pulau Organik? Sejatinya, program ini sedang menawarkan sebuah inovasi
untuk menjadikan Sumba sebagai sebuah pulau yang terdepan dalam hal
mengembangkan produk-produk ramah lingkungan, kehidupan yang lebih sehat dan
selaras dengan alam, memanfaatkan energi yang bersih dan efisien untuk
keberlanjutan hidup alam dan manusia. Potensi tenaga kerja sektor pertanian
yang dominan akan menjadikan gerakan ini sebagai gerakan kolektif yang meluas
(massive) untuk memproduksi dan menggunakan produk-produk ramah
lingkungan. Untuk mengoperasionalkan ide ini tidak membutuhkan areal
pertanian yang luas sebagaimana yang di cari para investor selama ini untuk
berinvestasi. Kita (Pemda) begitu terkesima dengan kunjungan-kunjungan
investor, difasilitasi dengan berbagai kemudahan namun sampai sekarang
rencana investasinya (roadmap) masih kabur apalagi hasilnya. Sebaliknya,
kedua program ini dengan memanfaatkan lahan pekarangan atau kebun yang selama
ini digunakan petani atau rumah tangga sudah cukup untuk menghasilkan
produk-produk pertanian yang sehat, berkualitas dan berdaya saing. Mengapa
bukan kelompok-kelompok ini yang mestinya difasilitasi dengan kebijakan dan
anggaran yang memadai untuk perluasannya (dissemination and scaling up),
dari pada sekedar menganggumi dan tersenyum ketika mengujungi dan melihat
hasil-hasil kerja mereka dengan liputan media, setelah itu so what gitu lho?
Maaf hanya sekedar pertanyaan?
Program ini tidak sedang
menawarkan hal-hal yang muluk, misalnya dengan memilih program ini bisa
segera menaikkan produksi pertanian, sebab kita tahu ini bukan hal mudah,
namun yang ditawarkan adalah kualitas produk berupa garansi kehidupan yang
berkelanjutan bagi manusia dan alam Sumba. Bagaimanapun gaya hidup (life
style) orang-orang perkotaan kelas menengah mulai memburu produk-produk
organik dan berani membayar berapapun harganya demi kehidupan yang sehat.
Bisa dibayangkan jika gerakan Sumba Pulau Energi Terbarukan dan Sumba
Pulau Organik menjadi gerakan sebuah gerakan massive oleh 68.03 persen tenaga
kerja sektor pertanian, maka Sumba benar-benar akan menjadi tujuan banyak
orang untuk berburu produk-produk organik dan melihat pemanfaatan energi
terbarukan, selain itu Sumba akan memiliki daya tarik wisatawan dengan
komoditas agro-eco wisata yang dipromosikan. Ini lebih mendesak dari pada
menunggu wisatawan datang melihat tulisan sandlewood, sebagaimana
dipergunjingkan facebooker di Sumba.
Dimensi lain yang sedangkan
ditawarkan oleh program ini adalah mengajarkan masyarakat Sumba untuk
memelihara dan melestarikan budaya. Sebagai daerah beriklim semi-arid, pola
hidup dominan adalah bertani dan beternak merupakan kombinasi kegiatan yang
komplementer dan sinergis untuk keberlanjutan hidup. Itu juga yang diajarkan
oleh kedua program ini dimana kedua isu tersebut saling komplementer dan
sinergis. Bahkan, jika selama ini praktek bertani-beternak kita terkesan
konvensional, yaitu berorientasi pada tujuan dan rantai manfaat yang berputar
disekitar lingkungan rumah tangga, relasi sosial-kekerabatan yang kemudian
bermuara pada ritual-ritual budaya. Maka kedua program ini sedang mengajarkan
sesuatu yang transformatif. Pola bertani-beternak bisa saja konvensional
(karena itu warisan) namun orientasi tujuan dan rantai manfaat yang lebih
panjang. Produk-produknya tidak hanya berputar dilingkungan rumah tangga dan
kerabat tetapi meluas pada area pasar yang lebih luas, seperti; gaya hidup
yang sehat, penggunaan sumber energi yang efisien, bersih dan sehat,
keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.
Hal yang tidak kalah penting dari
program ini, yaitu sedang mengajarkan kita bagaimana menurunkan derajat
ketergantungan bahkan mungkin saja memutus rantai ketergantungan yang selama
ini membelenggu. Sekurang-kurangannya ada 2 jenis ketergantung yang
relevan dengan topik ini. Pertama, ketergantungan pada barang-barang
ekonomi yang tidak bisa diproduksi di Sumba sehingga harus mendatang dari
luar Sumba. Kenyataan ini harus diakui, bahwa dalam beberapa hal kita memang
harus bergantung pada pihak luar karena barang-barang tersebut tidak bisa
dihasilkan sendiri. Kita tidak bisa bangun jalan, jembatan, rumah dan
berkendaraan tanpa bergantung pada dukungan bahan baku dari luar. Sayangnya,
ketergantungan ini mulai merambah pada kebutuhan-kebutuhan pokok yang
dikomsumsi sehari-hari. Salah satu contoh, produksi beras daerah sudah tidak
bisa mencukupi konsumsi warga. Laju pertumbuhan produksi padi daerah sejak
tahun 2008 – 2012 hanya mencapai 3,2 persen (masih dalam bentuk padi).
Sementara laju pertumbuhan beras yang masuk ke daerah dilihat dari volume
bongkar barang dipelabuhan sejak tahun 2008 – 2012 mencapai 9,5 persen (Sumba
Timur dalam angka BPS, 2008-2012). Margin ini mengindikasikan bahwa produksi
padi daerah tidak mampu atau mengalami penurunan dalam mencukupi kebutuhan
warga sehingga harus mendatangkan beras dari luar. Belum lagi jika bicara
siapa yang paling diuntungkan dari ketergantungan ini, sederhananya bisa
dilihat dari profil pelaku-pelaku ekonomi paling dominan mulai dari sektor
informal sampai sektor formal. Kemudian dari aneka barang yang diusahakan
oleh berbagai sektor usaha merupakan barang-barang yang produksinya harus
didatangkan dari luar. Dari potret ini bisa diduga siapa sebenarnya yang
paling diuntungkan dari ketergantungan ini? Kedua, ketergantungan pada
sumber energi khususnya untuk penerangan. Saat ini rasio elektrifikasi di
Sumba baru mencapai 24,5 persen
(http://energitoday.com/2013/04/03/ikon-energi-terbarukan-itu-bernama-sumba).
Kondisi topografis yang sulit menjadi salah satu kendala masuknya jaringan
listrik PLN (on grid) pada wilayah-wilayah perdesaan. Oleh sebab itu,
pelayanan dengan listrik tanpa jaringan (off grid) melalui pemanfaatan
sumber-sumber energi lokal yang ada seperti biogas, tenaga surya dan air
menjadi solusi terbaik untuk kondisi ini sehingga rasio elektrifikasi di
Sumba bisa ditingkatkan.

Sungguh, jika membentangkan apa yang sedang
ditawarkan oleh kedua program ini rasa-rasanya kita perlu mereview kebijakan
pembangunan yang sedang kita jalankan,
apakah kita sedang melaksanakan pembangunan yang “membangun” secara
berkelanjutan atau kita sedang melaksanakan pembangunan yang menciptakan”
ketergantungan” secara berkelanjutan?
Pada akhir dari tulisan ini, saya ingin menyampaikan
apresiasi kepada para champion program Sumba
Pulau Energi Terbarukan dan Sumba
Pulau Organik karena kontribusi anda merupakan impian banyak orang di
dunia saat ini untuk hidup secara sehat dan berkelanjutan selaras alam,
berkontribusi pada upaya-upaya global sebagai bagian dari masyarakat dunia. Sumba merupakan bagian dari jawaban atas kerisauan dan
seruan buku Silent Spring dan The Limits To Growth.. Luar biasa bukan? [*]
* Stepanus Makambombu, Mahasiswa
Program Doktor Studi Pembangunan UKSW)
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar