Petani Lewa Tanam Padi dengan Pola SRI Panen Dua Kali
Lipat
Jumat, 22 Mei 2015 09:41
Alfons Nedabang
PANEN PADI--Petani
memanen padi yang ditanam dengan pola SRI di Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Senin
(18/5/2015).

SRI merupakan suatu teknologi budidaya padi yang menitikberatkan
penghematan sumber daya, terutama air. Metode yang digabungkan dengan cara
bercocok tanam secara organik ini, merupakan suatu inovasi dalam teknik
budidaya padi.
Katoci Papu Abu adalah salah satu petani yang menanam padi dengan pola SRI.
Pada Senin (18/5/2015), padi Sari Ayu yang sudah menguning di lahan sawahnya,
dipanen.
Panen padi yang melibatkan sejumlah anggota keluarga dan rekan-rekan
petaninya, diawali dengan doa dalam bahasa Sumba, dipimpin Anggal Hai Praing.
Dengan Sabit di tangan, laki perempuan, tua dan muda memotong padi. Dalam bahasa Sumba disebut Ka'wu (potong padi). Sambil memotong padi, mereka melantunkan syair adat yang disebut Wunda Nggaiya. Nyanyian bersama-sama tersebut bertujuan untuk memberi semangat.
Dengan Sabit di tangan, laki perempuan, tua dan muda memotong padi. Dalam bahasa Sumba disebut Ka'wu (potong padi). Sambil memotong padi, mereka melantunkan syair adat yang disebut Wunda Nggaiya. Nyanyian bersama-sama tersebut bertujuan untuk memberi semangat.
Padi yang sudah terpotong dari batangnya, dikumpulkan. Selanjutnya acara
Parinah (rontok padi). Mereka menggunakan pola tradisional, yaitu
menginjak-injak hingga bulir padi terlepas. Saat menyentak-nyentak kaki, tangan
memegang kayu yang sudah dibuat memalang, dengan dua tiang sebagai tumpuan.
Wunda Nggaiya dilantunkan memberi semangat.
Parinah dengan cara tradisional nyaris sudah tidak ditemukan karena
kebanyakan petani menggunakan mesin perontok padi.
Katochi Papu Abu mengatakan bertanam
padi dengan pola SRI memberi keuntungan. Salah satunya yaitu pada usia 10 hari,
bibit padi sudah panjang dan siap ditanam.
Petani Lewa Tanam Padi dengan Pola SRI
Panen Dua Kali Lipat
Jumat, 22 Mei 2015 09:41
Alfons Nedabang
PANEN PADI--Petani memanen padi yang
ditanam dengan pola SRI di Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Senin (18/5/2015).
"Penyemaian
bibit hanya 10 hari, panjang mayang sudah mencapai 27-30 cm. Kalau pola biasa,
pada 10 hari panjang padi semaian hanya sejari sehingga belum bisa ditanam.
Artinya, usia semai lebih pendek, berbeda dengan yang selama ini usia semai 3
minggu sampai 1 bulan. Keuntungan lainnya, sekarang hanya tanam satu anakan,
sebelumnya biasa tanam 6 anakan," ujarnya.
"Jadi,
bertanam dengan pola SRI lebih irit bibit dan tenaga. Perubahan cara tanam dan
sebar ini pertama kali diterapkan di Lewa," tambahnya.
Dia
mengungkapkan, memiliki lahan sawah seluas 2 hektar (Ha). Sebelum mengenal pola
SRI, bibit padi yang digunakan untuk lahan seluas 2 ha sebanyak 16 kg. Sekarang
hanya 8 kg bibit padi.

"Sebelumnya
kami petani tidak ada pembimbing. Dengan ketemu beliau, pola kerja kami
berubah. Kami juga mulai mengerti tentang pertanian organik," ujarnya.
Hal senada dikatakan Markus, petani lainnya.
Hal senada dikatakan Markus, petani lainnya.
"Kami
berterima kasih kepada Pak Rahmat yang telah membimbing kami," ucap
Markus. (aca)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar