Rabu, 23 Desember 2015
Selasa, 15 Desember 2015
Sabtu, 12 Desember 2015
Minggu, 29 November 2015
Senin, 09 November 2015
Minggu, 25 Oktober 2015
Rabu, 21 Oktober 2015
Senin, 19 Oktober 2015
Rabu, 16 September 2015
Kamis, 10 September 2015
Senin, 07 September 2015
Kamis, 02 Juli 2015
Menambah Pengetahuan, Menghapus Kerawanan Pangan
Geliat Sumba Menepis Kerawanan Pangan
Ninik Yuniati/wartawan portalkbr.com
Selasa, 30 Juni 2015 15.48 WIB
![]() |
Rahmat Adinata |
![]() |
NINIK YUNIATI |
KBR, Sumba Timur- Berjalan-jalan menelusuri Kampung Kalu,
Prailiu, Kambera, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur di musim kemarau menjadi
pengalaman yang menyenangkan. Pada sore hari, ketika sinar matahari merapat ke
barat, warga ramai beraktivitas di kebun “milik” bersama yang berada di jantung
pemukiman warga. Kebun seluas setengah hektar itu memberi nuansa berbeda di
wilayah yang terkenal mempunyai rentang musim kemarau lebih panjang ketimbang
musim hujan. Kebun itu tak tampak gersang. Justru kuncup-kuncup hijau
bermunculan dari bibit sayuran yang telah ditanam lebih kurang selama satu
minggu.
“Ada sayur putih, bawang, kangkung, kol,” celetuk Yeremias, seusai menyiram satu lajur lahan (bedeng) seluas 10 meter persegi yang dikerjakan ayah dan ibunya. Bocah berusia 12 tahun ini mengaku telah setahun turut bergumul di kebun. Sementara sang ayah, Lodu Tanggumara, mengawasi sambil sesekali memberi arahan. Dia bercerita, bercocok tanam sayuran telah dijalani selama 3 tahun.
Sebelumnya, lahan tersebut hanya dipakai menanam jagung. Ini lantaran, jagung hanya bisa tumbuh pada musim penghujan. “(Dulu-red) tanam jagung saja. Satu tahun 80 ikat atau 100 ikat. Cuma kan curah hujan sampai bulan April, kan sudah selesai hujan, jadi kita harap jagung saja,” kata dia.
Namun, setelah divariasikan dengan tanaman sayur, kebun tersebut memberi tambahan hasil yang lumayan bagi warga. Seperti dirasakan Yohanna, yang menanami enam bedengnya dengan bermacam sayur. Kata dia, dalam waktu sekitar satu bulan, kebun sayur siap dipanen dan dijual.
“Kalau ini satu bedeng panjang ini, bisa 600-700 (ribu) satu bulan lebih, langsung panen. Semuanya (6 bedeng-red) bisa 3 juta itu. Lumayan, untuk bantu anak-anak sekolah, beli buku, makan, kalau lebih, ditabung,” ungkapnya sambil tersenyum puas. Yohanna mengaku dengan berkebun, ia bisa memperoleh penghasilan sendiri dan tidak lagi bergantung pada suami.
Guna menjual hasil kebunnya, Ibu dua anak ini tak perlu susah payah berjalan ke pasar. Ia telah memiliki pelanggan tetap yang akan datang langsung, membeli dan mengangkut sayuran tersebut. Menurut Yohanna, sayuran dagangannya sangat diminati lantaran ditanam secara organik. Ia menjamin mutu dan rasanya jauh di atas sayuran yang memakai pupuk kimia. “Sayurnya enak nikmat gitu, beda memang, lain dari sayur yang di pasar yang pakai pupuk kimia,” ujarnya.
Menambah Pengetahuan, Menghapus Kerawanan Pangan
Hidup bergelimang pangan sepanjang tahun, sebenarnya termasuk pengalaman baru bagi warga Kalu maupun warga di sejumlah tempat lain di Sumba. Musim kemarau yang panjang hingga mencapai 9 bulan, membatasi pilihan warga untuk bercocok tanam. Kondisi ini menyebabkan warga Sumba berpotensi mengalami kerawanan pangan setiap tahunnya.
Perubahan mulai terjadi sejak ada bantuan atau masukan dari beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menggandeng warga lokal. Dua LSM yang serius menggarap potensi warga Kalu yakni Hivos dari Belanda dan Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI). Menurut Rahmat Adinata, Koordinator IPPHTI Sumba, dirinya mulai melakukan pendampingan pertanian sejak Januari 2012.
Waktu itu, Sumba Timur tengah dilanda gelombang panas El Nino yang cukup panjang. Bencana ini membuat panen gagal, sehingga menyengsarakan warga karena tidak memiliki persediaan makanan. Sumba Timur mengalami kerawanan pangan.
“Saat Kabupaten Sumba Timur dilanda bencana rawan pangan dari tahun 2010 akibat kemarau panjang. Ya dampak El Nino, petani gagal panen. Hingga stok makanan habis. Dampaknya masyarakat hingga mengkonsumsi ubi hutan atau iwi (Bahasa Sumba-red) yang beracun tapi diolah dulu,” ungkap Rahmat.
Paham akan minimnya pengetahuan warga, Rahmat mulai menawarkan pertanian organik sebagai solusi masalah pangan. Di Prailiu maupun wilayah lain, program ini lebih menyasar pada perempuan sebagai pelaku utama. Menurut Rahmat, ini dikarenakan perempuan di Sumba rata-rata menganggur, tetapi memiliki potensi yang besar. “Sebab perempuan lebih ulet, teliti dan kompak dalam kerja daripada laki-laki. Perempuan lebih paham akan kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.
Kemudian, Rahmat menginisiasi pembentukan kelompok-kelompok, dan mulai memberikan pelatihan dan modal untuk bertani. Benar saja, kelompok yang didominasi perempuan ini mampu menyerap pengetahuan dengan baik. “Dulu banyak anggota "KPK" (Kelompok Pencari Kutu) dan ini sudah menjadi tradisi di Sumba, sekarang berubah jadi KPS (Kelompok Penanam Sayuran),” kata Rahmat sambil bercanda.
Warga dilatih untuk tidak bergantung pada pupuk kimia, mampu membuat pupuk organik dan memproduksi bibit tanaman sendiri. Selain itu, warga diajarkan juga untuk peka terhadap perubahan iklim, sehingga mampu memprediksi waktu tanam yang tepat. Hingga pertengahan tahun ketiga, menurut Rahmat, lembaganya telah mendampingi sekitar 280 warga yang tersebar di Sumba Timur dan Sumba Barat Daya.
Bersinergi Dengan Ketahanan Energi
Selain fokus mengurus pertanian, IPPHTI juga bekerjasama dengan LSM Belanda, Hivos, mempertalikan ketahanan energi dengan pangan. Hivos mengedukasi dan memfasilitasi warga untuk memproduksi biogas dengan memanfaatkan kotoran ternak, terutama babi. Energi hasil produksi tersebut bisa menjadi pengganti minyak tanah. Potensi besar biogas terbaca dari tradisi masyarakat Sumba yang mayoritas memiliki ternak babi dalam jumlah banyak. Biasanya, kotoran ternak tersebut dibuang saja karena dipandang nihil manfaat.
Heinrich Dengi, warga Kalu, menjadi salah satu pelaku pemanfaatan biogas. Pada akhir 2011, ia menerima tawaran Hivos untuk membangun reaktor biogas ukuran terkecil 4 meter kubik di belakang rumahnya. Ia mengaku mengeluarkan dana sekitar 3-4 juta rupiah sewaktu membangun reaktor. “Sebenarnya total biaya sekitar 10 juta, karena disubsidi (dari Hivos), saya keluarkan sekitar 3,5-4 juta. Hivos tidak memberi gratis, agar warga merasa memiliki teknologi itu, jadi bisa merawat dengan baik,” kata Heinrich.
Sejak memasang reaktor, keluarga Heinrich tidak lagi bergantung pada minyak tanah untuk keperluan dapur. Namun, seiring waktu, Heinrich mulai mendapati nilai tambah lain dari reaktor tersebut, yakni untuk memproduksi pupuk organik. Sekitar Agustus 2012, ia dilatih oleh Rahmat IPPHTI memproduksi limbah biogas menjadi pupuk. Saat ini, pupuk cair buatannya, “Bioflurry” telah digunakan sebagai pupuk utama kelompok petani Prailiu.
“Sekarang saya nyesal karena punya biogas ukuran terkecil. Kalau awalnya saya tahu benar manfaat biogas, pasti saya mau buat yang ukuran 10 atau 12 meter kubik,” tutur lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini.
Saat ini, warga Kalu terus berupaya mengembangkan dan mengeksplorasi potensi pertanian dan energi. Salah satu yang didorong adalah mencari solusi untuk memperlancar akses terhadap air. Menurut Rahmat, warga Sumba memiliki tradisi unik dalam memperlakukan air. Kata dia, sejak dulu, mereka memilih tinggal di tempat yang jauh dari sumber air. Hal ini diakuinya agak mempersulit penyediaan air untuk mendukung aktivitas pertanian.
“Air sebetulnya ada seperti di sungai, danau atau embung dan mata air tapi mereka belum paham caranya saja. Ini ada pengaruhnya dengan budaya terdahulu, bahwa orang Sumba lebih suka hidup di atas bukit yang jauh dengan air,” terang Rahmat.
Selama tiga tahun terakhir, warga memperoleh akses air melalui pompa yang dibangun di dekat kebun. Namun, pompa tersebut masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Beberapa minggu terakhir, Heinrich dan beberapa warga mulai membaca kemungkinan penggunaan energi air untuk menggerakkan pompa. Mereka telah mencoba memasang kincir air di sungai terdekat.
“Kincir sudah jalan, cuma masih ada perbaikan sana sini, biar mantap. Kincir air bisa pompa air ke bak, sumber air dari sungai. Sementara pompa air masih pakai, tapi ke depan sepertinya tidak lagi,” jelas Heinrich.
Strategi yang sama, menurut Rahmat, juga dilakukan oleh warga dampingannya di Desa Kondamara, Kecamatan Lewa, Sumba Timur, dan Dikira, Sumba Barat Daya. Mereka memanfaatkan energi solar atau tenaga matahari untuk memompa air dari sungai ke kebun warga.
Editor: Dimas Rizky
“Ada sayur putih, bawang, kangkung, kol,” celetuk Yeremias, seusai menyiram satu lajur lahan (bedeng) seluas 10 meter persegi yang dikerjakan ayah dan ibunya. Bocah berusia 12 tahun ini mengaku telah setahun turut bergumul di kebun. Sementara sang ayah, Lodu Tanggumara, mengawasi sambil sesekali memberi arahan. Dia bercerita, bercocok tanam sayuran telah dijalani selama 3 tahun.
Sebelumnya, lahan tersebut hanya dipakai menanam jagung. Ini lantaran, jagung hanya bisa tumbuh pada musim penghujan. “(Dulu-red) tanam jagung saja. Satu tahun 80 ikat atau 100 ikat. Cuma kan curah hujan sampai bulan April, kan sudah selesai hujan, jadi kita harap jagung saja,” kata dia.
Namun, setelah divariasikan dengan tanaman sayur, kebun tersebut memberi tambahan hasil yang lumayan bagi warga. Seperti dirasakan Yohanna, yang menanami enam bedengnya dengan bermacam sayur. Kata dia, dalam waktu sekitar satu bulan, kebun sayur siap dipanen dan dijual.
“Kalau ini satu bedeng panjang ini, bisa 600-700 (ribu) satu bulan lebih, langsung panen. Semuanya (6 bedeng-red) bisa 3 juta itu. Lumayan, untuk bantu anak-anak sekolah, beli buku, makan, kalau lebih, ditabung,” ungkapnya sambil tersenyum puas. Yohanna mengaku dengan berkebun, ia bisa memperoleh penghasilan sendiri dan tidak lagi bergantung pada suami.
Guna menjual hasil kebunnya, Ibu dua anak ini tak perlu susah payah berjalan ke pasar. Ia telah memiliki pelanggan tetap yang akan datang langsung, membeli dan mengangkut sayuran tersebut. Menurut Yohanna, sayuran dagangannya sangat diminati lantaran ditanam secara organik. Ia menjamin mutu dan rasanya jauh di atas sayuran yang memakai pupuk kimia. “Sayurnya enak nikmat gitu, beda memang, lain dari sayur yang di pasar yang pakai pupuk kimia,” ujarnya.
Menambah Pengetahuan, Menghapus Kerawanan Pangan
Hidup bergelimang pangan sepanjang tahun, sebenarnya termasuk pengalaman baru bagi warga Kalu maupun warga di sejumlah tempat lain di Sumba. Musim kemarau yang panjang hingga mencapai 9 bulan, membatasi pilihan warga untuk bercocok tanam. Kondisi ini menyebabkan warga Sumba berpotensi mengalami kerawanan pangan setiap tahunnya.
Perubahan mulai terjadi sejak ada bantuan atau masukan dari beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menggandeng warga lokal. Dua LSM yang serius menggarap potensi warga Kalu yakni Hivos dari Belanda dan Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI). Menurut Rahmat Adinata, Koordinator IPPHTI Sumba, dirinya mulai melakukan pendampingan pertanian sejak Januari 2012.
Waktu itu, Sumba Timur tengah dilanda gelombang panas El Nino yang cukup panjang. Bencana ini membuat panen gagal, sehingga menyengsarakan warga karena tidak memiliki persediaan makanan. Sumba Timur mengalami kerawanan pangan.
“Saat Kabupaten Sumba Timur dilanda bencana rawan pangan dari tahun 2010 akibat kemarau panjang. Ya dampak El Nino, petani gagal panen. Hingga stok makanan habis. Dampaknya masyarakat hingga mengkonsumsi ubi hutan atau iwi (Bahasa Sumba-red) yang beracun tapi diolah dulu,” ungkap Rahmat.
Paham akan minimnya pengetahuan warga, Rahmat mulai menawarkan pertanian organik sebagai solusi masalah pangan. Di Prailiu maupun wilayah lain, program ini lebih menyasar pada perempuan sebagai pelaku utama. Menurut Rahmat, ini dikarenakan perempuan di Sumba rata-rata menganggur, tetapi memiliki potensi yang besar. “Sebab perempuan lebih ulet, teliti dan kompak dalam kerja daripada laki-laki. Perempuan lebih paham akan kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.
Kemudian, Rahmat menginisiasi pembentukan kelompok-kelompok, dan mulai memberikan pelatihan dan modal untuk bertani. Benar saja, kelompok yang didominasi perempuan ini mampu menyerap pengetahuan dengan baik. “Dulu banyak anggota "KPK" (Kelompok Pencari Kutu) dan ini sudah menjadi tradisi di Sumba, sekarang berubah jadi KPS (Kelompok Penanam Sayuran),” kata Rahmat sambil bercanda.
Warga dilatih untuk tidak bergantung pada pupuk kimia, mampu membuat pupuk organik dan memproduksi bibit tanaman sendiri. Selain itu, warga diajarkan juga untuk peka terhadap perubahan iklim, sehingga mampu memprediksi waktu tanam yang tepat. Hingga pertengahan tahun ketiga, menurut Rahmat, lembaganya telah mendampingi sekitar 280 warga yang tersebar di Sumba Timur dan Sumba Barat Daya.
Bersinergi Dengan Ketahanan Energi
Selain fokus mengurus pertanian, IPPHTI juga bekerjasama dengan LSM Belanda, Hivos, mempertalikan ketahanan energi dengan pangan. Hivos mengedukasi dan memfasilitasi warga untuk memproduksi biogas dengan memanfaatkan kotoran ternak, terutama babi. Energi hasil produksi tersebut bisa menjadi pengganti minyak tanah. Potensi besar biogas terbaca dari tradisi masyarakat Sumba yang mayoritas memiliki ternak babi dalam jumlah banyak. Biasanya, kotoran ternak tersebut dibuang saja karena dipandang nihil manfaat.
Heinrich Dengi, warga Kalu, menjadi salah satu pelaku pemanfaatan biogas. Pada akhir 2011, ia menerima tawaran Hivos untuk membangun reaktor biogas ukuran terkecil 4 meter kubik di belakang rumahnya. Ia mengaku mengeluarkan dana sekitar 3-4 juta rupiah sewaktu membangun reaktor. “Sebenarnya total biaya sekitar 10 juta, karena disubsidi (dari Hivos), saya keluarkan sekitar 3,5-4 juta. Hivos tidak memberi gratis, agar warga merasa memiliki teknologi itu, jadi bisa merawat dengan baik,” kata Heinrich.
Sejak memasang reaktor, keluarga Heinrich tidak lagi bergantung pada minyak tanah untuk keperluan dapur. Namun, seiring waktu, Heinrich mulai mendapati nilai tambah lain dari reaktor tersebut, yakni untuk memproduksi pupuk organik. Sekitar Agustus 2012, ia dilatih oleh Rahmat IPPHTI memproduksi limbah biogas menjadi pupuk. Saat ini, pupuk cair buatannya, “Bioflurry” telah digunakan sebagai pupuk utama kelompok petani Prailiu.
“Sekarang saya nyesal karena punya biogas ukuran terkecil. Kalau awalnya saya tahu benar manfaat biogas, pasti saya mau buat yang ukuran 10 atau 12 meter kubik,” tutur lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini.
Saat ini, warga Kalu terus berupaya mengembangkan dan mengeksplorasi potensi pertanian dan energi. Salah satu yang didorong adalah mencari solusi untuk memperlancar akses terhadap air. Menurut Rahmat, warga Sumba memiliki tradisi unik dalam memperlakukan air. Kata dia, sejak dulu, mereka memilih tinggal di tempat yang jauh dari sumber air. Hal ini diakuinya agak mempersulit penyediaan air untuk mendukung aktivitas pertanian.
“Air sebetulnya ada seperti di sungai, danau atau embung dan mata air tapi mereka belum paham caranya saja. Ini ada pengaruhnya dengan budaya terdahulu, bahwa orang Sumba lebih suka hidup di atas bukit yang jauh dengan air,” terang Rahmat.
Selama tiga tahun terakhir, warga memperoleh akses air melalui pompa yang dibangun di dekat kebun. Namun, pompa tersebut masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Beberapa minggu terakhir, Heinrich dan beberapa warga mulai membaca kemungkinan penggunaan energi air untuk menggerakkan pompa. Mereka telah mencoba memasang kincir air di sungai terdekat.
“Kincir sudah jalan, cuma masih ada perbaikan sana sini, biar mantap. Kincir air bisa pompa air ke bak, sumber air dari sungai. Sementara pompa air masih pakai, tapi ke depan sepertinya tidak lagi,” jelas Heinrich.
Strategi yang sama, menurut Rahmat, juga dilakukan oleh warga dampingannya di Desa Kondamara, Kecamatan Lewa, Sumba Timur, dan Dikira, Sumba Barat Daya. Mereka memanfaatkan energi solar atau tenaga matahari untuk memompa air dari sungai ke kebun warga.
Editor: Dimas Rizky
Sabtu, 27 Juni 2015
Kamis, 04 Juni 2015
Petani Lewa Tanam Padi dengan Pola SRI Panen Dua Kali
Lipat
Jumat, 22 Mei 2015 09:41
Alfons Nedabang
PANEN PADI--Petani
memanen padi yang ditanam dengan pola SRI di Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Senin
(18/5/2015).

SRI merupakan suatu teknologi budidaya padi yang menitikberatkan
penghematan sumber daya, terutama air. Metode yang digabungkan dengan cara
bercocok tanam secara organik ini, merupakan suatu inovasi dalam teknik
budidaya padi.
Katoci Papu Abu adalah salah satu petani yang menanam padi dengan pola SRI.
Pada Senin (18/5/2015), padi Sari Ayu yang sudah menguning di lahan sawahnya,
dipanen.
Panen padi yang melibatkan sejumlah anggota keluarga dan rekan-rekan
petaninya, diawali dengan doa dalam bahasa Sumba, dipimpin Anggal Hai Praing.
Dengan Sabit di tangan, laki perempuan, tua dan muda memotong padi. Dalam bahasa Sumba disebut Ka'wu (potong padi). Sambil memotong padi, mereka melantunkan syair adat yang disebut Wunda Nggaiya. Nyanyian bersama-sama tersebut bertujuan untuk memberi semangat.
Dengan Sabit di tangan, laki perempuan, tua dan muda memotong padi. Dalam bahasa Sumba disebut Ka'wu (potong padi). Sambil memotong padi, mereka melantunkan syair adat yang disebut Wunda Nggaiya. Nyanyian bersama-sama tersebut bertujuan untuk memberi semangat.
Padi yang sudah terpotong dari batangnya, dikumpulkan. Selanjutnya acara
Parinah (rontok padi). Mereka menggunakan pola tradisional, yaitu
menginjak-injak hingga bulir padi terlepas. Saat menyentak-nyentak kaki, tangan
memegang kayu yang sudah dibuat memalang, dengan dua tiang sebagai tumpuan.
Wunda Nggaiya dilantunkan memberi semangat.
Parinah dengan cara tradisional nyaris sudah tidak ditemukan karena
kebanyakan petani menggunakan mesin perontok padi.
Katochi Papu Abu mengatakan bertanam
padi dengan pola SRI memberi keuntungan. Salah satunya yaitu pada usia 10 hari,
bibit padi sudah panjang dan siap ditanam.
Petani Lewa Tanam Padi dengan Pola SRI
Panen Dua Kali Lipat
Jumat, 22 Mei 2015 09:41
Alfons Nedabang
PANEN PADI--Petani memanen padi yang
ditanam dengan pola SRI di Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Senin (18/5/2015).
"Penyemaian
bibit hanya 10 hari, panjang mayang sudah mencapai 27-30 cm. Kalau pola biasa,
pada 10 hari panjang padi semaian hanya sejari sehingga belum bisa ditanam.
Artinya, usia semai lebih pendek, berbeda dengan yang selama ini usia semai 3
minggu sampai 1 bulan. Keuntungan lainnya, sekarang hanya tanam satu anakan,
sebelumnya biasa tanam 6 anakan," ujarnya.
"Jadi,
bertanam dengan pola SRI lebih irit bibit dan tenaga. Perubahan cara tanam dan
sebar ini pertama kali diterapkan di Lewa," tambahnya.
Dia
mengungkapkan, memiliki lahan sawah seluas 2 hektar (Ha). Sebelum mengenal pola
SRI, bibit padi yang digunakan untuk lahan seluas 2 ha sebanyak 16 kg. Sekarang
hanya 8 kg bibit padi.

"Sebelumnya
kami petani tidak ada pembimbing. Dengan ketemu beliau, pola kerja kami
berubah. Kami juga mulai mengerti tentang pertanian organik," ujarnya.
Hal senada dikatakan Markus, petani lainnya.
Hal senada dikatakan Markus, petani lainnya.
"Kami
berterima kasih kepada Pak Rahmat yang telah membimbing kami," ucap
Markus. (aca)
Sumba Membangun Kemandirian Sambil Menjawab
Kerisauan Global
|
s
Sebuah Dynamika
Pembangunan: Rahmat Adinata
7 Februari 2013 oleh
Tom Post / Topik: Tom Post (Terjemahan dari tulisan Tom Post,di U.S.A)
Mengubah Pola Pikir Masyarakat
![]() |
Pola SRI akan mampu menangani rawan pangan,di Sumba |
Saya pertama kali
bertemu Rahmat di pulau Sumba di Indonesia Timur pada musim semi 2012. Sumba
telah menjadi sebuah pulau yang rapuh selama beberapa waktu, Pengaruh perubahan iklim dari arus Samudera Pasifik ,
kemarau yang panjang bahkan cuaca lebih tidak menentu. Dua tahun lalu tepatnya
pada tahun 2011, warga Sumba mengalami
lagi rawan pangan akibat kemarau panjang sehingga mengakibatkan
gagal panen, dan Word Renew
memberikan bantuan pangan berupa sembako utuk kebutuhan mereka sampai menunggu
panen berikutnya. Itu adalah sukacita untuk bertemu dengan Rahmat dalam situasi ini karena dia adalah orang yang memancarkan
optimisme dan harapan di tempat ini.
Dengan
P3H dan IPPHTI (Ikatan Petani Prengendalian Hama Terpadu Indonesia)
mitra kami, Rahmat bekerja di Sumba
membantu warga untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi risiko kelaparan
karena gagal panen. Pada perjalanan kami di seluruh Sumba, kami
mengunjungi tiga kelompok tani, seperti
daerah Makamenggit, Lamenggit dan Kalu. Rahmat
telah bekerja hampir satu tahun di sini
, dan terlihat para petani bimbingannya ada
yang menanam tomat , semangka, dan beras dua kali lipat hasilnya dan kedelai per hektar yang selama
ini belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Penduduk desa telah mencapai banyak
kemajuan setelah adanya pemberdayaan ini. Meski memulai dari sebuah kelpmpok
kecil-hanya tiga kelompok tani saja yang dibina oleh Rahmat tapi itu seperti awal yang cerah!
"Kami
ditempatkan di sini oleh Allah untuk mengatasi tantangan dan harus pindah dari
persemaian demi permberdayaan bagi masyarakat Sumba "
Saya pikir jenius
juga Rahmat ,yang saya lihat dari kepercayaan dirinya. Sikapnya
mengatakan, "Kami ditempatkan di sini oleh Allah untuk mengatasi tantangan
dan membuat pemeberdayaan agar bumi
tetap lestari. Jika kita melakukannya dengan hati ikhlas, maka mata dan hati
kita akan melihat ide-ide baru, kita
akan menemukan bahwa kita dapat mengetahui hal ini! "
![]() |
Persemaian Pola SRI |
Kedua, Rahmat mengajarkan metode yang sangat
sederhana bagi para petani miskin , dimana
segala yang didapat sudah disediakan oleh alam dengan biaya sangat
sederhana,sumber daya yang sangat langka: out-of-tidak perlu mengeluarkan biaya
besar . Serta mengajarkan proses penyadaran tentang dampak negatif pupuk kimia
sintetik-, Rahmat juga mengajarkan
mereka cara membuat mikro-organisme dan membuat kompos dalam skala besar. Dalam melakukakan ini dengan
memanfaatkan sumber daya yang tersedia ,
petani dapat menanam sayuran, padi, dan tanaman kedelai yang menyerap nutrisi
pada tingkat yang lebih tinggi dan dengan demikian menghasilkan lebih
berlimpah.
Dan, oh, dengan cara
demikian –mereka mampu menghemat banyak
biaya dan petani tidak perlu pergi ke toko apalagi mengutang. Resepnya cukup
sederhana: Anda menyebarkan mikroba efektif dengan pencampuran air cucian
beras, gula atau molasses, bubuk ikan, urin, dan pupuk kandang. Kemudian Anda
fermentasi ramuan ini. Anda dapat menemukan banyak informasi tentang hal ini
dengan melihat efektif mikro-organisme .
Ketiga, Rahmat sangat realistis tentang sifat
manusia. Pengajaran-Nya memungkinkan untuk fakta bahwa bagi kebanyakan orang,
hanya mengetahui tentang sesuatu tidak mengubah perilaku. Alasan yang sama ayah
saya sendiri bisa tahu tentang merokok tembakau dan risiko kanker tetapi terus
merokok. Rahmat, , mengatakan:
"Hal pertama yang saya lakukan adalah
bagaimana merubah paradigma atau
pola pikir seseorang, dengan pendekatan hati yang ihlas "
Saya bertanya apa
yang ia maksudkan dengan jawaban-Nya memiliki elemen-elemen "mengubah
seseorang menjadi jiwa yang organis?":
1.Penebusan: menghargai yang tidak
berharga sehingga memiliki satu nilai, seperti membuat kompos serta memanfaatkan bahan bahan yang
ada di sekitar.itu sama halnya dengan kita mensyukuri nikmat yang diberikan
oleh Penguasa Alam Semesta.
2. Discovery: perjalanan untuk menemukan
karunia Allah dalam hidup mereka. Penemuan ini mengubah sikap hidup masyarakat.
3. Pengetahuan: Hanya memiliki teori saja
tidak cukup. Apalagi mempunyai gagasan hanya dijadikan teori, namun harus
dipraktekan agar dapat kesimpulan
4. Menawarkan: hati yang bersih yang
bekerja untuk mengurus bumi, merupakan persembahan atau rasa syukur kepada
Allah.
5. Memahami tiga rahim : kita berasal dari
rahim Allah kemudian masuk ke rahim ibu
dan manusia diciptakan dari sari
pati tanah yaitu rahim bumi. Kita harus memahami ketiga rahim itu.
Saya berterima kasih
kepada Tuhan, untuk menciptakan
orang-orang seperti Rahmat yang
mencintai sesamanya untuk berbagi dengan
tingkat kepedulian yang tinggi serta
membukakan kelimpahan Allah mana daerah ini (Sumba) telah
mengalami rawan pangan atau bencana
kelaparan (tahun 2011) akibat kemarau panjang.
Tom Pos
Team
Leader ,Word Renew Asia
Catatan
: Terima kasih buat Mr Tom Post . sudah
menuliskan tentang saya dan Sumba......
![]() |
Tanaman Kol/kubis hasilnya sangat maksimal dengan pola organik di Sumba Timur,walau ditanam di pinggir laut. hal ini petani dibekali tentang wawasan varietas khusus tanaman dataran rendah. |
Senin, 01 Juni 2015
"SUMBA PULAU ORGANIK"
Ketika masuk bulan Januari daratan Sumba sangat eksotis dengan hijaunya hamparan padang savana,khususnya di daerah Kabupaten Sumba Timur.Disinilah suka cita bagi masyarakat petani sebab musim tanam akan tiba,hujan turun dikirim dari langit semesta.ternak-ternakpun seolah merasakan kecukaciataan,sebab persediaan makanan melimpah ruah.

Namun memasuki bulan Juli ,hamparan hijau mulai berubah warna,kuning,bahkan hitam. Yang nampak hanyalah bukit-bukit bebatuan. sebabmemasuki kemarau panjang datang.Ditandai dengan tiupan angin kencang yang berimbas dari benua Australia akan terasa sekali pengaruhnya.Tanah-tanah mulai retak,pepohonan tinggal batang dan rantingnya. Ternak-ternak yang dilepas di padang savanapun seperti bingung,kondisinya kurus,kering.
itulah Pulau Sumba
Kawasan Pertanian Ekologis Sumba Timur,Sumba Lima Organik. |
Masih Ada Harapan Besar
Dari sisi yang lain mungkin Sumba membuat kita miris jika membaca paparan di atas,namun itulah pakta yang sesungguhnya yang menimpa Pulau Sumba sepanjang tahun.Terlebih jika musim kemarau panjang tiba rawan pangan selalu melanda,khususnya Kabupaten Sumba Timur.inlah permasalahan yang selalu menimpa Kabupaten tertua di Pulau Sumba.
Padahal sebetulnya jika kita mau jujur potensi alam sangatlah besar,walau kemarau panjang tiba.Banyak Embung-embung dibangun,danau danau dibaiarkan begitu saja,sungai sungai dan mata air mengalir,namun sangat sedikit diberdayakan untuk menghidupi lahan pertanian
Potensi-potensi inilah sejujurnya jika serius digarap,bukan tidak mungkin Pulau Sumba akan menjadi daerah penghasil pangan untuk daerahnya sendiri.tidak berharap dikirim dari luar pulau.
Berangkat dari permasalahan di atas dengan potensi yang bisa dikembangkan,sangatlah mungkin menjadi daerah maju andaikan yang memiliki kebijakan satu alam pikiran dengan alam yang didiaminya. sebab ada potensi pengembangan ternak yang akan mampu memasok kebutuhan nasional,namun selama ini hanyalah wacana saja. masyarakat menunggu dan menunggu dari yang memiliki kebijakan. Pulau Sumba secara keseluruhan memiliki peluang besar jika ingin mengembangkan sebuah kawasan pertanian Ekologis,sebab tanah,air dan udaranya masih alami. Terlebih lagi masyarakat petaninya masih awam dalam penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis.
Pengembangan Tanam Padi Pola SRI
![]() |
Pertumbuhan padi pola SRI |
Dari sisi iklim dan cuaca yang kurang bersahabat serta tekstur tanah yang ada ,Sumba sangat cocok untuk meningkatkan produksi pangan beralih ke tanam padi pola SRI (Systemof Rice Intencification).alasannya dengan pola SRI bila diterapkan akan mampu melawan perubahan iklim dengan kondisi yang melanda Sumba itu sendiri.
Rata -rata masyarakat petani Sumba jika tebar benih padi untuk satu hektar sekitar 100 kg ,sedangkan pola SRI hanya 8 kg saja..Bisa dibayangkan andai ada 1000 petani,berapa kelebihan bibit bila menerapkan pola SRI.Maka jangan heran saat musim tanam tiba petani selama ini selalu teriak kekurangan bibit.Bukankah ini termasuk pemborosan? belum lagi bila melihat dari sisi produksi dengan sistem konvensional,rata -rata hasil panen sekitar 3,2 ton/hektar.
akan sangat berbeda jauh bila massyarakat petani Sumba menerapkan pola tanam padi SRI,dengan potensi hasil bisa mencapai 10-12 ton/hektar.Keuntungan lain dengan pola ini posisi petani tidak akan dibuat ketergantungan sebab mulai dari pupuk dan pestisida bisa membuat sendiri.intinya tanam padi pola SRI yang dianut adalah M.A.S (Manajemen Akar Sehat) artinya petani akan belajar bagaiman proses ekologi tanah yang sehat dengan tidak menggunakan bahan bahan kimia sisntetis yang akan merusak lingkungan.
![]() |
Tanaman padi Pola SRI,tanpa bahan kimia sintetis |
Petani Sumba Bukan Pemalas
![]() |
Petani mendapat pemahaman langsung di lahan belajarnya |
Andaikan ada yang memiliki stigma negatif terhadap orang Sumba,sebagai Pemalas rasanya lontaran itu sangatlah tidak bijak.sebab selama ini para petani Sumba walau gagal panen tiap tahun ,mereka tidak pernah menyerah tanam dan tanam kembali sepanjang tahun ,walaupun dengan kondisi iklim yang ekstrim.
Mungkin sebaiknya kita harus lebih bijak jika menilai sesuatu hal.mereka tidak malas ,hanya karena lebih tidak mengetahui caranya saja .secara umum tingkat Sumber Daya Manusia (SDM) para petani Sumba,sangatlah minim.hal ini butuh kepedulian dan kerja sama semua pihak agar nasib masyarakat atau petani mengalami kemajuan dalam kesejahteraannya. tanah luas,kebijakan mendukung,program pendampingan konsisten ,petani butuh siapapun yang bisa diajak diskusi di lahannya ketika menghadapi segala permasalahannya.Inilah kuncinya.
Semoga keinginan menjadikan Sumba menjadi pulau organik seegera terwujud. walau bagaimanapun ada peluang besar untuk pengembangan kearah sana.sebab di sini tidak ada pertanian skala besar, maupun perkebunan besar dengan menerapkan pola pemberian kimia yang mampu merusak alam dan kesehatan.
"Rahmat Adinata,Waingapu 4-Juni-2015 : tulisan ini untuk anaku Aqiela Rahmayanti Adinata. yang berulang tahun ke 11..."
Langganan:
Postingan (Atom)