Selasa, 28 April 2015
Rabu, 25 Februari 2015
Senin, 23 Februari 2015
Senin, 15 September 2014
‘Handuka Eti.....”
Itulah kata pertama yang pernah ku dengar dalam bahasa Sumba saat memberikan bimbingan pada petani di Makamenggit.sebuah kalimat kekecewaan para petani di kelompok Sekolah Lapang Pertanian Organik,SLPO Makamenggit,Desa Makamenggit,Kecamatan Nggaha Ori Angu,Sumba Timur ,NTT..
Masyarakat petani yang tergabung dalam kelompok SLPO Makamenggit mendapat program sekolah lapang ,berupa tanam padi metode SRI (system Rice of Intensification) sebuah metode tanam dengan hemat bibit,hemat air,tanpa pupuk dan pestisida kimia,dari IPPHTI.
Usia padi baru satu minggu setelah tanam,namun kondisinya sangat menghawatirkan.kuning dan seperti mau mati.Semua nggota kelompok SLPO Makamenggit mengeluh bahkan menyesalkan .mengapa harus tanam pola SRI ? Padahal jika tanam seperti yang nenek moyang wariskan tidak akan merana begitu.
“Handuka Eti begini, lebih baik digiling ulang terus tanam kembali biar kita rugi waktu.masa lahan belajar pertumbuhan padinya ,memalukan.” itulah yang dilontarkan oleh beberapa petani.
Entah kata-kata apalagi waktu itu yang dilontarkan sebab dalam bahasa daerah yang belum dipahami Wajar mereka memiliki pandangan seperti itu sebab tanam padi pola yang diterapkan hal baru
.jpg)
Menurut mereka biasanya tanam padi antara lima atau enam anakan hingga usia satu minggu sudah kelihatan hijau. Sedangkan ini sangat berbeda dengan kebiasaan mereka..
Seiring berjalannya waktu,masuk usia tiga minggu tanaman padi tumbuh subur dan hijau sudah ada enam anakan rata-rata selanjutnya semakin bertambah,hingga puncaknya pada minggu ke 14,sudah 78 anakan dalam satu rumpun.,padahal hanya tanam satu anakan saja.
Kata-kata sindiran ,makian entah ke mana perginya. Berunah jadi hammu eti.Ada kebanggaaan yang mereka lakukan selama ikut program sekolah Lapang pertanian organik di Makamenggit.
Adalah satu konsekwensi yang harus diterima disaat kita menghadapi para petani dengan tingkat pengetahuan yang berbeda.Tidak mudah merontokan paradigma lama dalam sekejap. Hanya dengan keuletan ,pendekatan yang ikhlas. Serta penyampaian dengan bahasa petani agar cepat dipahami oleh mereka.
Inilah program awal saat masuk Pulau Sumba,NTT, bersama Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI kerjasama dengan Sinode GKS Sumba pada januari tahun 2012
.
Hakudu-hakudu jadi hammu eti juga hehehehehe..
(Catatan tercecer di Bumi Marapu) terima kasih buat : Pak Iskandar Saher,pak Naftali Djoru,pak Heinrich Dengi pak Ignas Kunda,pak John Taena,,pak Leonardo Ratuwalangon,,@Feri IPPHTI,pak Kustiwa Adinata.(IPPHTI Nasional).
Hakudu-hakudu jadi hammu eti juga hehehehehe..
(Catatan tercecer di Bumi Marapu) terima kasih buat : Pak Iskandar Saher,pak Naftali Djoru,pak Heinrich Dengi pak Ignas Kunda,pak John Taena,,pak Leonardo Ratuwalangon,,@Feri IPPHTI,pak Kustiwa Adinata.(IPPHTI Nasional).
Salam Organik untuk Sumba..
Rahmat Adinata, Waingapu 10/9/14....
Hakudu : sedikit
Hammu eti : Baik hati
Minggu, 14 September 2014
IPPHTI :“Tanam Padi Metode SRI..”
Sistim atau
pola penanaman padi SRI (System Rice of Intensificatiom) banyak keuntungan yang
diraih oleh petani. Selain mampu melawan perubahan iklim,pola ini sangat
menghemat kebutuhan bibit. Biasanya petani kita di Pulau Sumba tebar benih
biosa berpuluh –puluh kilogram,sistim ini hanya butuh 8 kg saja/hektar.
Dengan jarak
tanam 25 X 25 cm atau 30 X 30 cm atau juga sistim
legowo.Metode SRI hanya tanam satu anakan dalam satu tancapan,berbeda pula
kebiasaan paradigma lama bisa lima dan enam anakan. benihpun cukup muda ketika umur 8 hari sudah
siap tanam (bulir masih nempel untuk cadangan makanananya).
Dalam
pemahaman masyarakat petani kita bahwa padi sawah adalah tanaman air,inilah
pola pikir yang keliru padahal sebetulnya padi sawah merupakan tanaman yang
membutuhkan air. Sehingga dampak negatifnya masyarakat bisa berebut air akibat
pemahaman yang keliru tersebut.
Metode SRI
sangat hemat air cukup macak-macak. Dengan perlakuan penyiangan gulma setiap
sepuluh hari setelah tanam hingga usia satu bulan.
Pemupukan
serta penyemprotan hanya menggunakan pupuk dan pertisida organik sebagai zat
pengatur tumbuh (ZPT) dan pengendali hama tanaman.
Potensi Hasil
Dengan
menerapkan pola SRI hasil bisa mencapai antara 10 hingga 12 ton (setelah masuk
ke tahap tiga kali tanam), asal perawatan maksimal sesuai dengan anjuran metode tersebut.
Sebagai
tahap awal di Pulau Sumba metode ini sudah dikenalkan oleh Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia ,IPPHTI kepada petani Makamenggit,Sumba Timur ( hasil 6,4
ton/ha.tahun 2012),petani di Karuni,Kecamatan Loura,Kabupaten Sumba Barat Daya
(hasil 7,4 ton /ha.Tahun 2013),petani di Kandara,Kelurahan Wangga,Sumba Timur.
Penerapan
metode SRI di Pulau Sumba sangat cocok jika melihat struktur tanah dan kondisi
iklim yang ekstrim ,khususnya di Kabupaten Sumba Timur.NTT.
Lewat tulisan ini semoga ada manfaatnya hingga mampu
merubah yang tadinya daerah miskin bukan hal mustahil ke depan menjadi
penghasil pangan yang sehat bagi bangsa ini. Intinya posisikan petani sebagai
subyek bukan sebagai obyek.
Salam organik untuk Sumba….
JOOOSSS….! (Jangan Omong Saja…!)
Rahmat Adinata,waingapu 15/9/14
Jumat, 12 September 2014
IPPHTI : “Anga-anga Saja...Itu Tabu ....!”
Ketika pertama kali
membimbing petani di Makamenggit ,Kecamatan Nggaha Ori Angu,Kabupaten Sumba
Timur. Ada yang masih terngiang di telinga,seolah kejadiannya baru kemarin sore
padahal sudah tiga tahun berlalu,tepatnya
januari 2012..
Memasuki materi pembelajaran
pembuatan pupuk organik cair dalam membimbing petani ,untuk kebutuhan
penyemprotan padi di lahan belajar Sekolah Lapng Pertanian Organik,SLPO
Makamenggit. Bersama Ikatan Petani
Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI.
Waktu itu para anggota
kelompok diintruksikan agar mengumpulkan air kencing atau urinenya
masing-masing sebanyak lima liter dalam waktu seminggu. Namun mereka tidak ada
yang menyahut satupun,bahkan ada yang nyeletuk .” Anga-anga saja.” Katanya (itu
kata yang pertama kudengar kala itu).
“Maaf Pak di sini sangat tabu
untuk mengumpulkan barang seperti itu,apakah tidak ada yang lain yang harus
kami kumpulkan...?” tegas seorang petani setengah ngotot tidak setuju.
Namun ahirnya para petani
pada waktu yang ditentukan mengumpulkan juga, hanya anehnya sebagian besar
petani anggota saat proses pembuatan semua pada lari menjauh sebab tidak tahan
dengan bau pesingnya.
Tahap proses fermentasi telah
selesai, pupuk siap untuk digunakan ,namun sebelumnya petani diperintahkan
untuk mencium pupuk organik dari air
kencing tersebut. Semua petani antri sekedar merasakan serta ingin tahu masih
bau atau sudah berubah.
Waktunya aplikasi pun
dilaksanakan dan anehnya mereka tidak lari menjauh seperti sedia kala. Tanaman
Semangka,tomat,bunga kol dan yang lainnya tumbuh subur berkat pupuk dari air kencing
mereka.
Setelah melihat hasil nyata
,selanjutnya,diperintahkan membuat pupuk dari air kencing mereka sudah sadar
sendiri sebab ada manfaat di dalamnya.Lebih seru saat panen semangka,ketika
mereka makan saling olok.”ini berkat air kecing siapa hingga semangka bisa
subur dan besar serta manis begini?” itulah guyonan mereka di lahan belajar
SLPO Makamenggit (jadi pingin ketawa sendiri jika ingat. Hehehe)

Bagamanapun manusia merupakan
mahluk yang paling serakah dalam pola makan,hingga kandungan -kandungan unsur
hara yang dibutuhkan oleh tanaman paling komplit di dalamnya,asal kita
mengetahui cara mengolahnya.
Mungkin kita sepakat bahwa
memandang sesuatu janganlah dari sudut negatifnya saja,pasti ada kandungan
positifnya yang mampu diraih untuk kehidupan kita..
(Catatan masa silam Di Bumi
Marapu)
Salam Organik untuk
Sumba......
JOOOSSS.....! (Jangan Omong
Saja....!)
Rahmat
Adinata,Waingapu,13/9/14
Ket : Anga-anga saja (Ada-ada saja,bhsa Sumba)
Kamis, 11 September 2014
"Ah Omong Kosong Itu...."
Pertama kali mengenalkan tanam bawang merah dari biji pada petani di Sumba Timur tahun 2012. Awalnya mereka tidak percaya jika bawang merah asalnya dari biji. sedangkan selama ini mereka yang ketahui tanamnya dari umbi saja..
Sungguh ironis memang, padahal negara kita sebagai negara agrarris,serta sudah merdeka pada usia 69 tahun. namun nasib yang dialami oleh rakyatnya dalam hal ini petani msih miskin dalam pengetahuan tentang bertani.

"Ah omong kosong itu..mana ada bawang merah dari biji sejak nenek moyang dari umbi..." ujar seorang petani dari kelompok SLPO Makamenggit,Sumba Timur, yang Kami bimbing,setengah mgotot tidak percaya.
Begitu ditunjukan lalu kami mbimbing ,dari mulai cara persemaian hingga tanam,barulah mereka percaya. hasilnyapun cukup mrmuaskan berbeda dengan tanam dari umbi.
Tujuan dikenalkan dengan biji adalah agar masyarakat petani di Sumba Timur ke depannya tidak ketergantungan terhadap bibit. jadi dengan tanam bioji mereka akan mengetahui setiap generasi keturunnannya.Mungkin ada konsekwensi yang harus diterima jika tanam dengan biji harus menunggu lama ,sebab dari satu biji bawang hanya akan keluar satu umbi saja . itu untuk tanam awal.namun selanjutnya petani akan merdeka dengan memiliki bibit lanjutan.
Kini setelah hampir tiga tahun membimbing petani di Pulau Sumba masih ada sebagian besar petani yang belum mengetahuinua.sedangkan petani yang pernah ikut Sekolah Lapang bersama Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI sudah merasakan hasilnya.
Sejatinya pemahaman ini disosialisasikan oleh pemerintah setempat melalui dinas terkait kepada petani di tingkat Desa.
Dari data BPS, Badan Pusat Statistik Nasional. bahwa bawang merah untuk kebutuhan dalam negripun masih dikirim dari luar negri. Inilah barangkali yang mengherankan. padahal jika para petani kita dibimbing dengan dibekali ilmunya berkeyakinan barang -barang tidak perlu lagi berharap kiriman dari luar.
Namun terkadang pula pihak yang memiliki kebijakan punya argumen lain,sebagai contoh alasannya untuk menyetabilkan harga pasar,atau petani mengalami gagal panen. maka didatangkanlah bawang merah tersebut. namun sayang pemerintah dalam hal ini tidak melihat dampak negatif yang kronis terhadap keberadaan petani lokal sendiri.
Semoga dengan terpilihnya Presiden ke 7 Negara Kita Bapak Jokowi akan mampu menolong ketersediaan pangan dalam negri.
Tentu saja ketersediaan pangan ini yang bisa dihasilkan oleh petani sendiri,bukan sengaja berharap kiriman dari negara tetangga.



Salam Organik untuk Pulau Sumba.....
JOOOOSSSS....! (Jangan Omong Saja..!)
Rahmat Adinata,Waingapu 12/9/14.
Sungguh ironis memang, padahal negara kita sebagai negara agrarris,serta sudah merdeka pada usia 69 tahun. namun nasib yang dialami oleh rakyatnya dalam hal ini petani msih miskin dalam pengetahuan tentang bertani.

"Ah omong kosong itu..mana ada bawang merah dari biji sejak nenek moyang dari umbi..." ujar seorang petani dari kelompok SLPO Makamenggit,Sumba Timur, yang Kami bimbing,setengah mgotot tidak percaya.
Begitu ditunjukan lalu kami mbimbing ,dari mulai cara persemaian hingga tanam,barulah mereka percaya. hasilnyapun cukup mrmuaskan berbeda dengan tanam dari umbi.
Tujuan dikenalkan dengan biji adalah agar masyarakat petani di Sumba Timur ke depannya tidak ketergantungan terhadap bibit. jadi dengan tanam bioji mereka akan mengetahui setiap generasi keturunnannya.Mungkin ada konsekwensi yang harus diterima jika tanam dengan biji harus menunggu lama ,sebab dari satu biji bawang hanya akan keluar satu umbi saja . itu untuk tanam awal.namun selanjutnya petani akan merdeka dengan memiliki bibit lanjutan.
Kini setelah hampir tiga tahun membimbing petani di Pulau Sumba masih ada sebagian besar petani yang belum mengetahuinua.sedangkan petani yang pernah ikut Sekolah Lapang bersama Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI sudah merasakan hasilnya.Sejatinya pemahaman ini disosialisasikan oleh pemerintah setempat melalui dinas terkait kepada petani di tingkat Desa.
Dari data BPS, Badan Pusat Statistik Nasional. bahwa bawang merah untuk kebutuhan dalam negripun masih dikirim dari luar negri. Inilah barangkali yang mengherankan. padahal jika para petani kita dibimbing dengan dibekali ilmunya berkeyakinan barang -barang tidak perlu lagi berharap kiriman dari luar.
Semoga dengan terpilihnya Presiden ke 7 Negara Kita Bapak Jokowi akan mampu menolong ketersediaan pangan dalam negri.
Tentu saja ketersediaan pangan ini yang bisa dihasilkan oleh petani sendiri,bukan sengaja berharap kiriman dari negara tetangga.



Salam Organik untuk Pulau Sumba.....
JOOOOSSSS....! (Jangan Omong Saja..!)
Rahmat Adinata,Waingapu 12/9/14.
Langganan:
Postingan (Atom)





