Selasa, 24 Desember 2019
Senin, 23 Desember 2019
Kamis, 19 Desember 2019
Senin, 09 Desember 2019
Minggu, 08 Desember 2019
Selasa, 26 November 2019
Minggu, 24 November 2019
Jumat, 22 November 2019
Kamis, 24 Oktober 2019
Jumat, 18 Oktober 2019
Minggu, 29 September 2019
Minggu, 08 September 2019
Rabu, 04 September 2019
Sabtu, 17 Agustus 2019
Minggu, 11 Agustus 2019
Sabtu, 10 Agustus 2019
Rabu, 07 Agustus 2019
Jumat, 02 Agustus 2019
Rabu, 24 Juli 2019
Senin, 08 Juli 2019
Jumat, 05 Juli 2019
Minggu, 16 Juni 2019
Rabu, 12 Juni 2019
Jumat, 07 Juni 2019
Senin, 27 Mei 2019
Sabtu, 18 Mei 2019
Jewawut (Uhu Kanu) Laksana Putri Raja Yang Terbuang
Jewawut (Uhu Kanu/Sumba) Harus dibangkitkan kembali. |
Jewawut
merupakan tanaman pangan yang berkualitas,sebab kandungan gizi dan nutrisinya
melebihi kandungan yang terdapat pada beras.Namun sejak mulai pencanangan
program berasnisasi dari pemerintah pusat keberadaannya mulai berkurang ,bahkan
hampir punah dari peredaran.Untuk saat ini sangat jarang para petani
membudidayakannya,andaikan ada itu pun hanya alakadarnya saja tanam di pinggiran kebun.
Jewawut di Pulau Sumba biasa dikenal dengan nama
"Uhu Kanu" ,zaman dahulu tanaman tersebut pernah berjaya sebagai
penolong pada saat-saat musim paceklik
(Tahun tidak enak).Namun sekarang keberadaannya hampir jarang
ditemui."Makan sedikit saja cepat kenyang,sayang tanaman itu sekarang
sulit dicari.Jika ada benihnya saya juga mau tanam kembali." Ujar Daud
Taraamah,warga Makamenggit,kecamatan Nggaha Ori Angu, Sumba Timur.
Tanaman
serealia ini bila ditanam di lahan
gersangpun sangat cocok,tidak harus budidaya di lahan yang subur. “Beberapa puluh
tahun ke belakang tanaman “Uhu Kanu “ini jadi makanan pavorit kami,biasa kita
olah jadi bubur,walau sedikit lengket seperti pulut (ketan).Sangat disayangkan mulai langka,padahal ini merupakan tanaman pangan
yang sehat.” Ungkap Danial ,seorang petani dari Kambujhapang kecamatan Lewa.
Uhu Kanu di Pulau Sumba Laksana Putri Raja yang terbuang |
Sejujurnya,
secara iklim Pulau Sumba merupakan daerah kering,dengan tingkat kemarau panjang mencapai 9 bulan,sebab curah hujan
sangat sedikit.Hal ini tentu saja tanaman Jewawut atau Uhu Kanu sangat layak
apa bila dikembangkan kembali demi menuju ketahanan pangan daerah.” Masih lebih
sulit budidaya padi,bila dibandingkan dengan pelihara Uhu Kanu,alasannya padi kan memiliki nilai pasar tersendiri .Coba
bayangkan lahan kering yang kita miliki (Sumba) lebih luas bila dibandingkan
dengan areal persawahan yang ada.” Tambah Danial.
Jewawut
atau Uhu Kanu (Sumba) mulai menghilang
sebab tergeser dengan “Pangan peradaban baru” yaitu beras, dan itu yang merubah
pola pikir masyarakat kita,bahwa dengan mengkonsumsi jewawut merupakan makanan
zaman dulu atau udik,atau bila di
pulau Jawa sebagai makanan burung.
![]() |
Sistim pengeringan Jewawut (Foto : Ariez Lombok) |
Terkadang juga kita sering merasa geli dengan target atau slogan yang sering kita saksikan lewat media masa maupun online,bahwa pemerintah pusat sering teriak-teriak tentang target swasembada pangan,apakah itu mungkin tercapai..? Tentu saja akan tercapai,asal petaninya dicerdaskan terlebih dahulu.Bukan mencerdaskan para mafia pangan.
(Waingapu,Rahmat Adinata 19/5/19).
Kamis, 16 Mei 2019
Sorghum (Jagung Rote) Bagai Gadis Desa Yang Dilupakan
Sorghum (Jagung Rote/Watar Hamu) Diambang Kepunahan Di Bumi Marapu Sumba. |
Meskipun sebagian besar warga Sumba sebagai petani,namun nasib Jagung Rote makin tahun makin sedikit yang membudidayakannya.Hal ini tentu saja menjadi kendala tersendiri demi tercapainya kedaulatan pangan daerah.Sedangkan istilah gerakan "Diversifikasi Pangan" yang digelorakan oleh pemerintah barulah sebatas berita saja,buktinya hingga detik ini,apa yang diidamkan untuk "swasembada pangan" hanya sebatas angan-angan saja.
Melkianus petani Sorghum di Watumbaka,Sumba Timur |
Kenapa Menghilang..?
Tanaman pangan tersebut mulai menghilang sejak pemerintah (Zaman Orde Baru) mulai mengadakan swasembada beras,hingga munculnya pembagian beras rakyat miskin (RASKIN).Celakanya dengan adanya beras raskin ini posisi petani bukannya diuntungkan,justru sebaliknya.sebab kebutuhan beras nasional selalu mengandalkan impor,secara otomatis dampak yang ditimbulkan dengan adanya beras impor ini posisi petani semakin terpuruk.Dampak lainnya tanaman pangan yang biasanya dibudidayakan oleh petani lokal sedikit demi sedikit mulai diambang kepunahan.
Tanaman Sorghum di Kecamatan Haharu,Sumba Timur |
"Posisi jagung lokal pun mulai tergeser,sebab adanya bantuan benih jagung hibrida.Kemudian jika petani tanam padi keluhannya selalu ada serangan hama dan penyakit,hingga terkadang gagal panen.Sedangkan jenis tanaman tradisional yang dulu pernah jaya,semisal Sorghum sudah adaftasi dengan iklim di sini (Sumba) dan cara budidayanya pun terhitung mudah." Papar pendiri Radio Max Fm Waingapu,Sumba Timur ini.
Sorghum sebagai tanaman tradisional Pulau Sumba harus dibangkitkan kembali. |
"Sekarang ini jadi serba sulit,tanam jagung hibrida tidak bisa disimpan lama,tanam padi sering terserang hama dan penyakit,jadi sebaiknya sedikit demi sedikit kembali ke pangan lokal yang dulu pernah jaya.harusnya ini jadi perhatian pihak pemerintah ,utamanya bagi kami di kawasan wilayah Timur."Harap Markus ,petani wilayah kecamatan Haharu,Sumba Timur.
Dari data di lapangan,para petani Sumba yang membudidayakan Sorghum presentasinya sangat sedikit,alasannya karena keterbatasan bibit padahal lahan basah (sawah) bila dibandingkan dengan lahan kering (daratan) sangat jauh sekali (lebih banyak lahan kering).
Lahan Sorghum Ketan (pulut) di kecamatan Haharu,Sumba Timur |
"Jika ada gerakan Revitalisasi tanaman tradisional di pulau Sumba itu sangat bagus sekali untuk mencapai ketahanan pangan daerah,sebab sejak dari dulu secara iklim sangat mendukung." Tambah Sarah Hobgen,Staff KOPPESDA Sumba.
"AKANKAH HARAPAN SWASEMBADA PANGAN DI NEGARA #AGRARIS INI,HANYA SEBATAS ANGAN-ANGAN...???"
(Rahmat Adinata,Waingapu-17/5/19)
Uniknya Sirih Sumba
Buah Sirih Sumba yang Harum |
Di Pulau Marapu Sumba,sirih memiliki peranan penting yang berkaitan dengan budaya setempat,alasannya sirih sangat berperan penting bila ada acara -acara sakral yang berkaitan dengan budaya atau hari hari istiewa ,bagi orang sumba posisi sirih sebagai lambang kehormatan atau penghormatan terhadap tamu.Kebutuhan sirih di pulau sumba sama halnya dengan kebutuhan sembako.Bila pada acara-acara besar,ada tamu yang tidak disuguhi sirih maka tuan rumah akan menerima sangsi,berupa denda ternak yang harus ditanggungnya.
Buah Sirih baru dipanen |
Apa bila kita bertamu pada keluarga Sumba,pasti yang disuguhkan terlebih dahulu adalah sirih dan pinang,itu merupakan lambang penghargaan serta penghormatan pada tamu atau siapapun yang datang berkunjung.
Sirih sebagai lambang penghargaan & penghormatan kepada tamu bagi orang-orang Sumba NTT |
"Jika kebutuhan sirih sudah langka ,biasanya dikirim dari luar Sumba,seperti dari daratan Timor atau pulau Sabu." Imbuhnya lagi.
Sirih dengan perlakuan secara organik lebih besar dan renyah rasanya. |
Walaupun sirih sebagai kebutuhan pokok bagi warga Sumba,namun hingga sekarang belum ada teknk budidaya yang diterapkan secara intensif dari kalangan manapun,baik pemerintah maupun lembaga swasta.Warga Sumba masih tetap membudidayakannya masih secara tradisional; dengan merambatkan pada pohon -pohon yang ada di sekitar kebun.
(Waingapu,17/5/19)
Minggu, 12 Mei 2019
Senin, 06 Mei 2019
Jumat, 26 April 2019
Kamis, 25 April 2019
Rabu, 03 April 2019
Sabtu, 23 Maret 2019
Sabtu, 19 Januari 2019
Kamis, 03 Januari 2019
Wanita Perkasa Ada Di Bali
Memasuki bulan ke empat tinggal di Pulau Bali,rupanya banyak sekali wawasan pengetahuan keseharian yang didapatkan.Bali dengan julukan sebagai pulau Dewata,sungguh sangat eksotis bagi para pengunjung atau wisatawan dalam dan luar negri.
![]() |
Wanita Bali Sedang mengerjakan pengecatan Bangunan. |
![]() |
Wanita perkasa Bali sedang Mengaduk semen dan pasir. |
"Andaikan mereka bekerja, biasanya anak-anaknya dititipkan di tetangga atau diasuh oleh neneknya,dan itu sudah turun temurun." Tambah Ketut Sukarbung,kawan Nyoman Sudana sesama warga Bangli.
Menurut Sukarbung,perempuan Bali harus kerja lebih ekstra untuk menghidupi rumah tangganya ;mengurus rumah,mendidik anak dan melayani suami."Sangat berbeda dengan para ibu di luar Bali,hanya suaminya saja yang banting tulang." Tuturnya.
![]() |
Melakukan pengecatan pagar. |
Langganan:
Postingan (Atom)