Kamis, 16 Mei 2019

Sorghum (Jagung Rote) Bagai Gadis Desa Yang Dilupakan

Sorghum (Jagung Rote/Watar Hamu) Diambang Kepunahan
Di Bumi Marapu Sumba.
Tanaman tradisional khas sumba,NTT yaitu SORGHUM,atau lebih dikenal dengan sebutan Jagung Rote/Watar Hamu,kondisinya sekarang ini cukup menghawatirkan (baca: diambang kepunahan).Padahal jenis tanaman serealia (biji-bijian ) ini pernah jadi penolong pada saat-saat musim paceklik bagi warga Sumba.

Meskipun sebagian besar warga Sumba sebagai petani,namun nasib Jagung Rote makin tahun makin sedikit yang membudidayakannya.Hal ini tentu saja menjadi kendala tersendiri demi tercapainya kedaulatan pangan daerah.Sedangkan istilah gerakan "Diversifikasi Pangan" yang digelorakan oleh pemerintah barulah sebatas berita saja,buktinya hingga detik ini,apa yang diidamkan untuk "swasembada pangan" hanya sebatas angan-angan saja.
Melkianus petani Sorghum di Watumbaka,Sumba Timur

Kenapa Menghilang..?

Tanaman pangan tersebut mulai menghilang sejak pemerintah (Zaman Orde Baru) mulai mengadakan swasembada beras,hingga munculnya  pembagian beras rakyat miskin (RASKIN).Celakanya dengan adanya beras raskin ini posisi petani bukannya diuntungkan,justru sebaliknya.sebab kebutuhan beras nasional selalu mengandalkan impor,secara otomatis dampak yang ditimbulkan dengan adanya beras impor ini posisi petani semakin terpuruk.Dampak lainnya tanaman pangan yang biasanya dibudidayakan oleh petani lokal sedikit demi sedikit mulai diambang kepunahan.

Tanaman Sorghum di Kecamatan Haharu,Sumba Timur
"Dulu makanan pokok kami warga Sumba adalah jagung,ubi-ubian dan jagung rote serta yang lainnya.Petani di mana-mana tanam Jagung Rote dan Jagung lokal untuk cadangan pangan,namun sekarang kan sudah terseret oleh berasnisasi,jadi pangan lokal mulai hilang dari peredaran." Terang Heinrich Dengi,Direktur Radio Max Foundation yang secara khusus membina petani di kawasan Sumba.

"Posisi jagung lokal pun mulai tergeser,sebab adanya bantuan benih jagung hibrida.Kemudian jika petani tanam padi keluhannya selalu ada serangan hama dan penyakit,hingga terkadang gagal panen.Sedangkan jenis tanaman tradisional yang dulu pernah jaya,semisal Sorghum sudah adaftasi dengan iklim di sini (Sumba) dan cara budidayanya pun terhitung mudah." Papar pendiri Radio Max Fm Waingapu,Sumba Timur ini.

Sorghum sebagai tanaman tradisional Pulau Sumba
harus dibangkitkan kembali.
Di Pulau Sumba,petani yang masih membudidayakan Sorghum meskipun tidak banyak masih ada,seperti di kawasan pantai utara Sumba Timur ; Daerah Kuta Atas,kecamatan Kanatang,Prailangina,Napu,Rambangaru,dan daerah Warahe kecamatan Haharu.

"Sekarang ini jadi serba sulit,tanam jagung hibrida tidak bisa disimpan lama,tanam padi sering terserang hama dan penyakit,jadi sebaiknya sedikit demi sedikit kembali ke pangan lokal yang dulu pernah jaya.harusnya ini jadi perhatian  pihak pemerintah ,utamanya bagi kami di kawasan wilayah Timur."Harap Markus ,petani wilayah kecamatan Haharu,Sumba Timur.

Dari data di lapangan,para petani Sumba yang membudidayakan Sorghum presentasinya sangat sedikit,alasannya karena keterbatasan bibit padahal lahan basah (sawah) bila dibandingkan dengan lahan kering (daratan) sangat jauh sekali (lebih banyak lahan kering).

Lahan Sorghum Ketan (pulut)
di kecamatan Haharu,Sumba Timur
Menurut beberapa tokoh LSM lokal Sumba,seperti Deni Karanggulimu menuturkan "Bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan bisa saja dilanda rawan pangan, akibat gagal panen atau gagal tanam,dampak dari kemarau panjang.Sudah sepantasnya tanaman tradisional dikembangkan kembali.Meskipun resikonya secara logika,ketika masyarakat biasa mengkonsumsi Uhu Watar (Nasi Jagung)atau Jagung Rote ke Beras pasti proses adaftasinya cepat sekali,namun bila dikembalikan lagi itu butuh proses yang lama.Itu wajar." Tutur Direktur Yayasan  KOPPESDA tersebut.

"Jika ada gerakan Revitalisasi tanaman tradisional di pulau Sumba itu sangat bagus sekali untuk mencapai ketahanan pangan daerah,sebab sejak dari dulu secara iklim sangat mendukung." Tambah Sarah Hobgen,Staff KOPPESDA Sumba.

"AKANKAH HARAPAN SWASEMBADA PANGAN  DI NEGARA #AGRARIS INI,HANYA SEBATAS ANGAN-ANGAN...???"

(Rahmat Adinata,Waingapu-17/5/19)











1 komentar: