Senin, 30 Oktober 2017
Selasa, 24 Oktober 2017
Senin, 16 Oktober 2017
Jejak :IPPHTI:" Tanam Bawang Merah Dari Biji.?”Ah..Tau Jawa Ini Anga-anga Saja Koh..” (Bag.3)

Diskusi
berikut rancangan kegiatan dibicarakan di sebuah Gereja tua yang sudah tidak
digunakan sebagai sarana ibadah warga Makamenggit.Banyak ajuan yang disampaikan
oleh anggota SLPO Makamenggit seputar rencana budidaya Hortikultura,saat itu.Mulai dari
kebutuhan dan varietas jenis bibit yang akan dibudidayakan di lahan
percontohan.
Biji Bawang Merah Siap Semai |
Dalam
pertemuan dengan anggota SLPO
Makamenggit dijelakan,bahwa para petani
harus menguasai cara pemilihan varietas bibit yang sesuai dengan iklim daerah
setempat.Dari mulai iklim panas ,sejuk dan dingin serta kondisi geografisnya.Apakah
ada di dataran rendah,menengah dan dataran tinggi.Seringkali petani saat tanam
sayuran tidak memperhatikan kondisi tersebut.Seperti jenis kol misalnya,mereka
pikir jenis bibit kol semua sama,padahal ada kol hanya bisa ditanam di daerah
dataran rendah hingga menengah,juga jenis kol yang khusus untuk dataran tinggi
saja.Namun kenyataannya petani asal tanam saja,hingga hasilnya kurang maksimal
saat sudah cukup umur untuk dipanen.
![]() |
Hamparan bawang merah tanamnya dari biji Kecamatan Pahungalodu (Gambar:YDT) |
Pertemuanpun
makin ramai,sebab dengan rencana
budidaya sayuran di lahan percontohan akan banyak sekali jenisnya,secara
otomatis jenis serangan hama dan penyakitpun akan berimbang disesuaikan dengan
jenis tanaman yang dibudidayakan.Namun ,saat itu suasana mendadak sepi seketika,ketika ditawarkan
rencana tanam bawang merah dari bijinya selain budidaya sayuran.”Ah..Tau Jawa ini anga-anga saja,mana ada
bawang merah ditanam dari biinya koh?.” Ucap seorang peserta SLPO Makamenggit
setengah bertanya ,tanda tidak percaya.
![]() |
Tanaman bawang sedang berbunga siap menghasilkan bijinya |
“Saya
ini,usia hampir 60 tahun belum pernah lihat yang tanam bawang merah dari bijinya,selalu
dari umbi.” Sambung anggota SLPO Makamenggit.yang duduknya paling belakang.
Begitu
diperlihatkan biji bawang dalam bentuk kemasan kemudian dibuka,barulah semua
anggota merasa heran campur kaget.”Cara tanamnya..?” Tanya mereka serempak
seolah dikomando.
Masuknya Ikatan
Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI Ke Sumba Timur,NTT tahun 2012. Membawa misi sebuah program,yaitu
program pemberdayaan terhadap para petani.Sudah barang tentu bahwa dalam
program harus mengenalkan hal –hal baru demi meneingkatkan pengetahuan
petaninya,begitupun dengan cara tanam bawang merah dari bijinya.
![]() |
Yulius Dondu Tay,panen bawang merah tanam dengan biji kecamatan Pahungalodu,Sumba Timur |
Sejujurnya waaktu itu
tahun 2012,petani di Indonesia pun masih sangat sedikit mengetahui tanam bawang
dari bijinya,berbeda dengan situasi sekarang makin tambah marak, serta menjadi
tren tersendiri.
Mari kita
bandingkan tanam bawang dari umbi dengan tanam dari bijinya.Kebutuhan
bibit perhektar dari umbi kisaran 1.500
kg (1,5 ton) dengan harga bibit bawang merah Rp 30.000/kg,artinya 1.500 kg X
Rp.30.000 =Rp45.000.000,-(Empat pluh lima juta)Belanja bibit untuk kebutuhan setiap hektar.
![]() |
Hasil panen Kecamatan Pahungalodu,Sumba Timur |
Sedangkan
jika petani tanam dari bijinya,kebutuhan bibit hanya 4 kg X Rp.2.000.000
=Rp.8.000.000,-(Delapan juta Rupiah)belanja bibit untuk kebutuhan setiap hektarnya.Secara
potensi hasilpun tidak jauh berbeda ,bila dibandingkan dengan tanam dari
umbinya ,yaitu kisaran 25 ton hingga 30 ton hasil panen dari setiap
hektar.Tentu saja hal ini tergantung dari perawatan yang dilakukan.
Tanam bawang
merah dari biji,Di kabupaten Sumba Timur sejak mulai dikenalkan oleh
IPPHTI pada tahun 2012 lewat SLPO
Makamenggit,seiring berjalannya waktu, kini masyarakat petani dan
lembaga lokalpun mulai menerapkannya.
Petani binaan Yayasan Radio Max Foundation Waingapu, sedang mengisi biji bawang merah ke bekong atau koker dari daun pisang. di Yubuwai,Sumba Timur |
Lembaga lokal semisal,
Yayasan radio Max Foundation Waingapu,Sumba Timur mulai menerapkan tanam bawang
merah dari biji terhadap kelompok petani binaaannya.Seperti kelompok tani Organik kalu,,Kelompok Yubuwai
Organik,Kelompok Waikudu Organik,Kelompok Lamenggit Organik.Kemudian Yayasan
KOPPESDA,di desa Rakawatu,desa Palanggay,desa Tamma,desa Tarimbang.Selanjutnya
Yayasan MARADA Dan MASSTER,di desa Bidihunga,desa Praihambuli,desaTanarara
,di wilayah kabupaten Sumba Timur.
Memberdayakan
petani melalui Sekolah Lapang adalah solusi untuk menghargai kemampuan serta menggali potensi
petani ,dengan praktek langsung di lapangan.(Rahmat Adinata,Bandung-16 Oktober
2017).
Bersambung.....
Catatan kaki:
-Tau Jawa (bhs Sumba)= orang Jawa
-Anga-anga saja (bhs Sumba)=Ada-ada saja
Minggu, 15 Oktober 2017
Jejak : IPPHTI ,Pola SRI dan Rawan Pangan Di Sumba Timur (Bag.2)
![]() |
Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia |
.”Bagaimana
mungkin ini bisa berhasil lihat saja padinya “handuka eti” begitu.jangan
–jangan kita ini ditipu,sudah tertimpa
bencana kelaparan kena tipu lagi.” Kata seorang anggota SLPO,setengah
bersungut-sungut.Ketika melihat usia padi baru berumur 7 hari
setelah tanam.
. Tahun 2011
kabupaten Sumba Timur dilanda rawan
pangan akibat kemarau panjang,disebab kan oleh perubahan iklim badai
El-Nino hingga para petani gagal panen,hal ini tentu saja menjadi berita nasional.Sekitar 151 desa di
kabupaten Sumba Timur kekurangan pangan akibat perubahan iklim tersebut (pos
kupang,29/10/ 2011) Bantuan panganpun berdatangan waktu itu mulai dari pemerintah,swasta hingga lembaga-lembaga
(NGO) dari luar negeri.
![]() |
Tanam Padi Pola SRI |
Ikatan
Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI hadir di tengah-tengah petani
Desa Makamenggit,kecamatan NGGOA Sumba Timur tahun 2012, bekerja sama dengan
DKH Jerman dan Greja Kristen Sumba.
Tanggal 12
Januari 2012,masyarakat desa Makamenggit berkumpul di sebuah bangunan Gereja
tua,kebetulan hari itu ada pembagian sembako dari NGO luar Negeri.”Kepada bapak
–bapak dan ibu sekalian hari ini kita kedatangan tamu yang akan menjadi saudara
kita,mereka dari IPPHTI dan DKH Jerman.Saudara kita ini tidak membawa bantuan
seperti halnya lembaga lain berupa bahan pangan,namun lebih dari itu,IPPHTI
akan menugaskan satu orang di sini yang akan membimbing bapak dan ibu dalam hal
pertanian organik selama satu tahun.” Ujar Ketua umum Gereja Kristen Sumba,Pendeta
Naftali Joru.Saat memberikan sambutan pada pertemuan pertama dengan masyarakat
Makamenggit.
![]() |
Persemaian Padi pola SRI |
“saya pikir
ini akan lebih bagus sebab yang namanya ilmu akan bermanfaat bagi masyarakat
desa Makamenggit secara khusus dan umumnya kabupaten Sumba Timur jadi mohon
dalam mengikuti Sekolah Lapang dengan
sungguh-sungguh.” Tambah ketua umum
Menurutnya
lagi.”Bisa jadi ini sebagai SLPO pertama
di Pulau Sumba bahkan mungkin di propinsi Nusa Tenggara Timur,semoga dengan
adanya SLPO ini akan mampu merubah pola pikir petani,minimal untuk wilayah
Sumba Timur ke depan.” Tuturnya.
Program Sekolah
Lapang Pertanian Organik di bagi dalam dua tahap atau semester.Untuk semester
pertama tentang cara tanam padi pola SRI (6 Bulan),kemudian semester ke dua
belajar budidaya hortikultura.(6 Bulan).Selain itu anggota SLPO Makamenggit
dalam semester pertama belajar cara membuat pakan ternak organik ,setiap
anggota diberi satu ekor anak Babi.Sesuai dengan jumlah anggota SLPO,yaitu 30
orang.
![]() |
Anggota SLPO Makamenggit Melakukan pengamatan lapangan |
Materi
Sekolah Lapang yang diberikan pada semester awal ,meliputi; Seleksi benih padi
sehat pola SRI,cara semai padi ,cara tanam padi pola Sri,analisa agro
ekosistem,herbarium,pembuatan pupuk padat dan cair organik,pembuatan pestisida
organik.
Awal mula
tanam padi, para anggota petani SLPO makamenggit 100 persen tidak percaya
dengan penerapan pola SRI tersebut.Bagaimanapun, biasanya mereka lakukan selama
ini tanam 5 sampai 7 anakan padi dalam satu tancapan,sedangkan sekarang harus
satu anakan saja.Kemudian biasanya mereka menyemai padi biasa satu bulan
,dengan pola SRI hanya 10 hari.
![]() |
Herbarium Anggota SLPO Makamenggit |
Bukan
perkara mudah sebetulnya merubah pola pikir petani dalam waktu singkat,namun melalui
Sekolah Lapang adalah solusi yang paling
efisien.Sebab yang dihadapi oleh petani adalah praktek langsung di
lapangan.Melalui demo plot yang mereka lakukan,setiap minggu para anggota SLPO
Makamenggit harus melakukan Analisa Agro ekosistem ,dimana petani belajar
memahami serta memperdalam perkembangan dan pertumbuhan tanaman.Dari mulai
panjang akar,tinggi tanaman,jumlah anakan,rata-rata anakan padi,kondisi tanah,kondisi
air,kondisi cuaca,kondisi gulma,serangan hama,serangan penyakit dan predator
sebagai musuh alami.Kemudian setelah melakukan Analisa agro ekosstem, anggota
SLPO makamenggit berkumpul ke sebuah
ruangan yang belokasi di sebuah Gereja Tua untuk mendiskusikan hasil pengamatan
lapangannya.
![]() |
Hasil Analisa Agoekosistem SLPO Makamenggit |
Dari hasil
pengamatan Analisa agro ekosistem lapangan,masing masing kelompok ,mengadakan herbarium padi ,anakan padi setiap minggunya ditempelkan pada kertas
maniala karton di dinding, lalu diberi catatan hasil dari pengamatan tersebut.Intinya
petani tahu betul perkembangan padi yang dijadikan sebagai demo plotnya.Herbarium
ini sangat bermanfaat bagi petani,walaupun padinya sudah dipanen namun hasil
pengamatannya masih tetap ada, dan bisa dijadikan acuan untuk masa tanam
selanjutnya.
Memasuki
minggu ke 7, anakannya sudah mencapai 37
anakan padi,padahal tanamnya hanya satu.”Sewaktu awal tanam kami semua
berprasangka buruk,namun dengan melihat hasilnya sekarang kami merasa
puas.Apalagi kita masih menunggu perkembangan padi hinga 14 minggu,artinya
masih 7 minggu lagi semoga dengan adanya pola tersebut ada angin segar bagi
kami.” Ujar Marthin Jami,Peserta paling tua di SLPO Makamenggit
![]() |
Kegiatan SLPO Makamenggit (Foto:Putri Ara) |
Untuk
semester awal, petani belajar tanam padi
pola SRI,mebuat pakan ternak organik, membuat pupuk organik padat dan cair
serta belajar membuat pestisida organik.” Setelah mengikuti SLPO Kami baru
sadar ternyata bahan –bahan yang dibutuhkan sudah tersedia di alam sekitar,jadi
tidak perlu beli apalagi harus didatangkan dari luar.”Tambah Markus
Dendungara,kawan Marthin sesama anggota SLPO Makamenggit.
Yang paling
menarik dari Sekolah Lapang adalah di saat
semua anggota berdiskusi dan mempresentasikan hasil pengamatannya masing-masing
dari lapangan.Mereka harus mempertahankan serta mempertanggung jawabkan hasil
pengamatannya,dengan dibimbing oleh pemandu dari IPPHTI.
![]() |
Rahmat Adinata(tengah),Pemandu petani dari IPPHTI memberikan arahan tentang Analisa agroekosistem |
Dari hasil
pengamatan kemudian dipresentasikan lalu didiskusikan,maka akan muncul sebuah
kesimpulan bersama dalam menghadapi rencana tindakan selanjutnya .Sebab hanya
dari prakteklah petani akan mampu mengambil sebuah kesimpulan.
Melalui SLPO
Makamenggit,Tanam padi dengan kebutuhan benih hanya 8 kg per hektar :tanam
satu,dengan bibit muda,tidak ada biaya cabut benih dan bisa irit biaya.Sebetulnya
dengan pola SRI akan menjawab kerawanan pangan di Sumba Timur yang selalu menjadi langganan tiap
tahun akibat kemarau panjang,itupun seandainya semua pihak mampu
menanggapinya.Bayangkan biasanya tebar benih 70 hinggga 100 kg perhektar,bila
dikonversikan ke harga benih Rp 15.000/kg.Artinya petani harus mengeluarkan
biaya untuk belanja benih saja sekitar Rp.1.050.000 – Rp 1.500.000,-/hektar.Sedangkan
dengan pola SRI Rp.15.000 X 8 kg =Rp.120.000/hektar.Sungguh sangat jauh
berbeda.
![]() |
Panen padi pola SRI SLPO Makamenggit Sumba Timur |
Dari hasil
demo plot SLPO Makamenggit waktu itu,rata-rata anakan padi pada mingguu ke 13
mencapai 72 anakan padi,dengan hasil panen mencapai 6,8 ton gabah basah/hektar,ini
untuk tanam tahap awal.sedangkan dengan sistem konvensional di sumba Timur
hanya menghasilkan 2,8 ton , tertinggi 3,5 ton dari setiap hektarnya.
![]() |
Anggota SLPO Makamenggit Fhoto bersama dengan isteri Bupati dan wakil Bupati Kabpaten Sumba Timur (Agustus 2012) |
Sejak
diterapkannya tanam padi pola SRI lewat SLPO Makamenggit tahun 2012,hingga saat
ini di beberapa wilayah Sumba sudah
mulai ada yang menerepkan,sekalipun masih tahap perorangan,seperti daerah
Kandara Waingapu ,Kecamatan Praipaha,kemudian daerah Makatul Sumba
Tengah,Karuni dan Wejewa Timur kabupaten Sumba Barat Daya.
Sedangkan
lembaga lokal yang pernah membimbing warga binaannya dengan pola SRI adalah
KOPPESDA Sumba Timur,melalui progran UNDP. Pada tahun 2015/2016 meliputi desa
Rakawatu,kecamatan Lewa,Desa Palanggay,Desa Tamma kecamatan Pahungalodu,Desa
Praimadita Kecamatan Karera,Desa Katikuwai kecamatan Matawai Lapawu di Sumba
Timur.
Ini
hanyalah sekilas seputar pertanian organik dengan tanam padi pola SRI di Pulau Sumba,utamanya di Kabupaten Sumba Timur.Andaikan semua pihak
menanggapi dengan pola ini ,barang kali ketahanan pangan daerah secara bertahap akan terwujud,utamanya
di kabupaten Sumba Timur.Sehingga rawan pangan akibat kemarau bisa
teratasi,dampaknya tidak menjadi langganan berita nasional tiap tahun,saat
rawan pangan melanda....!!!(Rahmat Adinata,Bandung 15 Oktober 2017)
Bersambung......
Catatan:
Handuka Eti (Bahasa Sumba): Sedih hati,merana
Sabtu, 14 Oktober 2017
Jejak :Peranan Radio Dalam Gerakan Organik Di Pulau Sumba (Bag.1)
Pada Tahun 2012,Ikatan Petani Pengendalian
Hama Terpadu Indonesia,IPPHTI pertama kali meletakan embrio pertanian organik dengan
SLPO ,Sekolah Lapang Pertanian Organik Makamenggit, bermula dari Desa
Makamenggit,kecamatan NGGOA Sumba Timur.Lalu melebar pada lahan kering di
daerah Waingapu sebagai ibu kota kabupaten Sumba Timur.Di waingapu gerakannya
lebih gencar sebab waktu itu IPPHTI ,Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu
Indonesia bekerja sama dengan radio Max Fm Waingapu.Melakukan kegiatan siaran yang bertajuk “Ayo Bertani Organik.”
Mengudara setiap hari Minggu ,selama dua
jam.
![]() |
Rahmat Adinata,pembawa acara "Ayo Bertani Organik" Di Radio Max Fm 96,9 Waingapu,Sumba Timur,NTT. |
Selama mengudara para petani bimbingan IPPHTI diajak Talk show di studio radio max Fm Waingapu ,untuk berbagi apa yang pernah di alami dari lapangan kemudian dibagikan lewat udara ke para pendengar radio dikawasan Sumba Timur.Berkat publikasi yang diinformasikan oleh radio, gaung pergerakan organik khusus di Sumba timur dan secara umum di Pulau sumba makin hari tambah marak.Masyarakat mulai tertarik menerapkan pola –pola pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan.
Mariana Mbara Papa,Anggota SLPO Makamenggit Saat Talk Show di Radi Max Fm Waingapu (2012) |
Radio bisa
juga dikatakan sebagai media informasi yang terbilang murah,sebab satu radio
bisa didengarkan oleh beberapa orang dalam satu rumah, bisa juga petani
mendengarkan langsung melalui telpon seluler yang dimilikinya.Akan sangat
berbeda bila informasi lewat media masa seperti koran,selain mahal tarap minat
baca petanipun masih rendah.
Markus Dendu Ngara,anggota SLPO Makamenggit |
“Kalau
mendengarkan acara.”Ayo Bertani Organik” dari radio Max FM setiap hari Minggu
serasa zaman dulu saat mendengarkan RRI dari Jakarta.Mendapat informasi
sekaligus hiburan.”Ujar Julius ,seorang petani di daerah Kandara,Waingapu Sumba
Timur.
Setiap hari
Minggu mulai pukul 17.00-19.00 malam,petani anggota SLPO Makamenggit bimbingan
IPPHTI diajak berdialog.Mereka akan bercerita langsung lewat udara ,apa yang
pernah di alami saat mengikuti Sekolah Lapang dalam demplot pertanian
organiknya.Dari acara tersebut muncul dialog atara pendengar dengan nara sumber
dari kalangan petani yang tergabung dalam SLPO Makamenggit.
Putri Ara,Peserta SLPO Makamenggit |
Sejujurnya,tidak
mudah mengajak para petani berdialog dalam studio radio yang baru mereka
alami.Terkadang suasananya menjadi grogi sebab baru pertama kali dalam sejarah
hidupnya.”Ruangan sangat dingin sebab ada Ac-nya,tapi badan saya berkeringat.”
Kata Mariana Mbara Papa,anggota SLPO Makamenggit saat diajak berdialog,waktu
itu.
Dikawasan
Indonesia bagian Timur,Khususnya di kota waingapu kabupaten Sumba Timur,radio merupakan sarana
informasi yang sangat dibutuhkan dan mendukung dalam mencerdaskan para petani
melalui informasi yang disampaikannya melalui udara.Mungkin di Indonesia yang
katanya sebuah negara “AGRARIS” hanya radio Max Fm 96,9 ,sebagai radio lokal
yang mengadakan siaran khusus pertanian organik.” Masyarakat petani di Sumba
Timur sangat butuh serta haus dengan informasi seputar pertanian ,sebagai anak
lokal sudah seharusnya membantu para petani dengan fasilitas yang kami
miliki.”Ujar Heinrich Dengi,pemilik Radio Max Fm Waingapu Sumba Timur.(Rahmat
Adinata,Bandung 15 Oktober 2017)
Bersambung........
Jumat, 13 Oktober 2017
Senin, 02 Oktober 2017
Langganan:
Postingan (Atom)