Jumat, 27 Mei 2016
Selasa, 24 Mei 2016
Catatan Film Dokumenter : "Kita,Alam Dan Masa Depan"
Gambar diambil dari laptop |
“Apa Mimpi
bapak ke depan..?”
“Mimpi saya
bagaimana caranya supaya petani itu cerdas,sebab ketahanan pangan itu dasarnya
ketahanan pengetahuan petaninya dulu yang digarap. Jangan bicara produksi atau
swasembada pangan sebelum petaninya dimuliakan,sebelum petaninya dicerdaskan
terlebih dahulu.Swasembada merupakan otomatisasi dari tingkat kecerdasan atau
SDM petaninya”
“Kemudian
Pak...?”
“Semoga Sumba
menjadi sebuah Pulau yang organik,sebab tanah ,air dan udaranya masih alami.”
Itulah bagian
dari dialog dalam Film Dokumenter “Kita,Alam Dan Masa Depan” yang diproduksi
oleh BaKTI dalam Program Pengelolanan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat
(PSDABM) ,Proyek Kemakmuran Hijau dari MCAI.
Film
Dokumenter dengan durasi waktu 17,11 detik.
Pertama kali diputar di Sumba Timur pada Hari Senin tanggal ,23 Mei
2016,bertempat di Kampus Universitas kriswina Sumba(UNWINA). Menghadirkan Kelompok Wanita Tani,Dinas Pertanian
,BP4K,DPRD Sumba Timur , beberapa LSM serta jurnalis.Menurut manajer BaKTI
area Sumba ,Wenda Radjah,Film Dokumenter ini akan terus bersafari atau
road show ke tiap kabupaten di Pulau Sumba.
“BaKTI
tugasnya mengkampanyekan hasil- hasil karya nyata yang ada di masayarakat ,baik
itu berupa majalah,kartun dan Film Dokumenter,dengan nama pengetahuan hijau.”
Ujar Riky sebagai Monev BaKTI saat membuka pemutaran perdana Film Dokumenter
tersebut di Kampus UNWINA ,Waingapu Sumba Timur.
Dalam Film
tersebut,Bagaimana Masyarakat Desa Aik Bual,Lombok ,NTB menjaga sungai sebagai aliran urat nadi
kehidupan,dengan menjaga dan membersihkannya dari sampah –sampah yang
mengotorinya. “Jika di atas bersih maka di bawahpun harus bersih.” Begitu ucap
Safarudin ,sebagai penggerak kebersihan sungai,dari Desa Aik Bual Lombok NTB.
Dari Narmada
Kabupaten Lombok Barat,seorang ibu Hj.Ummi Ningsih bagaimana memanfaatkan
sampah organik dan an organik hingga meningkatkan ekonomi rumah tangga bersama
anggota ibu-ibu PKK di Desanya.
“Sampah
organik kita beli dari mayarakat,kemudian dijadikan pakan ternak.kalau sampah
an organik atau plastik kita daur ulang agar lebih berguna.” Ujarnya
menjelaskan
Di
Pulau Sumba
Liputan di Mauliru Sumba Timur |
Liputan Film
Dokumenter di Pulau Sumba hanya di Kabupaten Sumba Timur,NTT. Dalam Film ,
menggambarkan bagaimana cara tanam padi dengan sistim maju tidak mundur lagi “
Jika petani mau maju maka tanampun harus maju.” Begitu cuplikan dalam dialog Rahmat
Adinata,dari Gerakan Petani Nusantara dengan Kadek Baruna ,di sawah Mauliru ,Waingapu Sumba Timur.
Dari Lewa,
Ibu Marthina Taraamah sebagai pengguna biogas menjelaskan,begitu besarnya
manfaat memiliki biogas hingga limbahnya bisa digunakan sebgai pupuk organik. “Limbah
biogas BIO SLURRY setelah dipermentasi mampu memperbaiki struktur tanah,menjaga
unsur hara untuk keuburan tanah hingga prodktifitas pertanian meningkat.”
Ujarnya
“Acara Ayo
Bertani Organik” di radio Max 96,9 Fm
masuk dalam tayangan dokumenter tersebut,sebab bagaimanapun petani memiliki hak yang sama dalam
mendapatkan informasi.
Terima kasih
Yayasan BaKTI Makasar,semoga tontonan Film ini akan menjadi inspirasi dan
tuntunan bagi siapapun yang menyaksikannya. (Radita,25/5/16)
Rahmat Adinata,Waingapu 25/5/16
Gerakan Petani Nusantara.
Senin, 23 Mei 2016
Kamis, 19 Mei 2016
Minggu, 08 Mei 2016
Menghargai Yang Tidak Berharga
Petani sedang melakukan pengisian pupuk ke bekong dari daun pisang |
Koker atau
polibag secara umum masyarakat mengenalnya dari pelastik untuk persemaian
tanaman.Namun yang dipraktekan oleh para petani organik di Kelompok Matawai
Amah.Mereka memanfaaatkan bekong atau koker untuk tanaman persemaiannya dari
daun pisang.
“Ini baru
pertama kali bagi kami,ternyata sangat mudah pembuatannya serta bahan pun mudah
didapatkan.Selama ini daun pisang dibiarkan begitu saja.” Ujar Paulus Warandoy,Ketua kelompok Matawai
Amah,Desa Yubuway,Kecamatan Kahaungueti,Kabupaten Sumba Timur.
Susunan bekong dari daun pisang |
Cara seperti
ini bukanlah yang pertama di Yubuway,Sumba Timur.Awal mula pembuatan bekong
dari daun pisang dikenalkan oleh Rahmat Adinata,bersama IPPHTI pada Sekolah
Lapang pertanian Organik ,SLPO Makamenggit,Desa makamenggit,Kecamatan
NGGOA.Tahun 2012.
Persemaian Paria dalam bekong siap tanam |
Dengan
menggunakan daun pisang selain praktis baik pembuatan maupun mendapatkan bahan
yang sudah tersedia di alam sekitar,petanipun belajar menghargai lingkungan
yang ada.Kelebihan daun pisang akan busuk dengan sendirinya berbeda dengan
bahan koker plastik.
Sejarah
awalnya dengan sistim bekong ini biasa diterapkan di daerah dataran tinggi
penghasil hortikltura,seperti Pangalengan,Lembang Jawa Barat. Kini diterapkan
di Pulau Sumba.Jenis sayuran yang sering pakai bekong biasanya tanaman
hortikultura seperti :Kol,Tomat,Cabai,Kembang Kol,semangka,Melon,Paria hingga
persemaian bawang merah dari biji.Hal ini bertujuan agar kondisi akar tidak
terganggu saat melakukan penanaman.
Ibu Ernesta Leha (ETA) di Persemaian hortikultura Kelompok Matawai Amah,Yubuway |
Banyak cara menyimpan tempat biji semai untuk Tanaman sayuran,buah-buahan
dan sejenisnya.Ada dengan cara Brownies,Pocis,Bekong.Dengan cara Brownies tanah
yang telah dicampur pupuk dicetak pakai alat khusus,agar membentuk kubus,Baru
biji tanaman sayuran diletakan di atasnya.Sedangkan dengan cara bekong kita
harus membuat terlebih dahulu lingkaran –lingkaran daun pisang dengan lebar 3
cm tinggi 3 cm,ditindik pakai lidi kering yang berfungsi sebagai pengunci daun.Biji
semai sayuran kemudian ditutup dengan serbuk gergaji agar terasa ringan saat
pertumbuhannya.
Dari cara-cara di atas agar persemaian tanaman tidak
terganggu akarnya saat dipindah ke lahan dalam keadaan aman serta cepat
adaftasi dengan kondisi barunya.
Tanam Kol setelah dipindah dari persemaian |
Untuk
pembuktian tersebut,pada hari sabtu,8-Mei-2016 kelompok Matawai Amah,tanam kol
dan Paria , telah menggunakan bekong dari daun pisang sebagai tempat biji
semainya.Dalam pemindahanyapun tidak terlalu sulit.
“Kondisi
tanaman setelah dipindah tetap kelihatan segar,sebab akarnya masih utuh.” Kata
umbu Johanis,petani Yubuway anggota Kelompok Matawai Amah,Desa Yubuwai
Kondisi
sumba dengan rentang kemarau panjang 8 hingga 9 bulan,alangkah bijak jika para
petaninya dikenalkan pada praktek –praktek pertanian yang ramah lingkungan.Mengahargai
yang tidak berharga hingga memiliki satu nilai,itulah esensi dari pertanian
yang berkelanjutan yang orientasinya pada pertanian ramah lingkungan.
Rahmat
Adinata,Waingapu (9/5/16)
Gerakan
Petani Nusantara (GPN)
Kamis, 05 Mei 2016
Rabu, 04 Mei 2016
Selasa, 03 Mei 2016
Langganan:
Postingan (Atom)