Rabu, 30 Maret 2016
Senin, 28 Maret 2016
TANAM PADI CARA MAJU : Rahmat Adinata
Tanam Padi Pola SRI tidak perlu mengeluarkan biaya cabut bibit Pertama kali Di Sumba |
Cukup dengan pelepah Pisang sangat sederhana bagi petani |
Awal mula dan pertama kali di Nusantara ini tanam padi
pola SRI dengan cara maju dikenalkan di Pulau Sumba,NTT. Tepatnya daerah Lairina ,Desa
Tanarara,Kecamatan Lewa Kabupaten Sumba Timur. Di lokasi kebun model Sumba Lima
Organik,pada bulan juni tahun 2015. Kemudian berlanjut di Desa Palanggay
,Kecamatan Pahunga Lodu, bulan Agustus tahun 2016, dalam program SPARC-UNDP
bersama Koppesda,Sumba,NTT
Selanjutnya tanam padi maju dengan bibit padi hitam
dipraktekan pula di Desa Dasaelu,Makatul kabupaten Sumba Tengah,lahan milik pak
Sofren Marisi. Untuk praktek tanam maju pada padi sawah dengan pola SRI (system Rice of
Intensification) terahir pada program SPARC-UNDP di Desa Rakawatu,Kecamatan
Lewa,Kabupaten Sumba Timur.pada tanggal 8 pebuari-2016.
Awalnya
Masyarakat Menolak
Ketika pertama kali dikenalkan tanam padi cara
maju,awalnya petani bingung sebab selama ini tanam mundur(Tandur) dan hanya di
budidaya padi gaya tanamnya yang mundur.Kebiasaan masyarakat petani di pulau
Sumba tanam padi menggunakan tali sebagai jarak tanam.jarang dan hampir tidak
ada ketika tanam padi sawah menggunakan caplak sebgai jarak tanamnya.
“Kebiasaan tanam mundur sudah sejak lama turun temurun dari nenek moyang,masa harus
tanam maju,terus tidak pakai tali lagi bingung saya kang..” ujar John Tnagguh salah seorang petani di Desa
Dasaelu,Makatul Sumba Tengah.agak sedikit pesimis dengan tanam padi cara maju.
“Apakah nanti tidak terinjak saat melakukan tanam
maju,padahal bibit padi yang kita tanam baru berumur 8 hari baru keluar tiga
atau empat daun kecil.?” Tanya Umbu Tana Homba saat praktek di lahannya daerah
Rakawatu Sumba Timur.
Penyerahan bibit pada Petani |
Jawaban
dari Praktek
![]() |
Praktek Tanam maju di Sumba Tengah |
Rasa penasaran,pesimis,bingung bahkan mungkin jengkel sebab kebiasaan harus
segera diganti dengan kebiasaan baru.Tanam dengan menggunakan caplak sebagai
alat ukur jarak tanam,tidak menggunakan tali lagi adalah sesuatu hal yang berat
bagi mereka. Namun setelah dipraktekan,barulah mereka paham dan mengerti.Sebab
hasil pencaplakan sudah ada jejak untuk jarak tanam.
“Awal mulanya memang ragu namun setelah praktek langsung
ternyata sangat mudah,padahal baru pertama kali melakukan.” Ujar John Tangguh ,Petani
dari Sumba tengah sudah tidak bingung lagi seperti dugaan sebelumnya.
Lain pendapat John Tangguh ,lain pula pendapat mama Dorkas
dari Desa Rakawatu. “ Dengan adanya pencaplakan dan tanam maju ternyata lebih
mudah serta lurus,berbeda saat kita tanam mundur pasti ada yang bengkok .Tidak
ada kesulitan sedikitpun.” Kata mama Dorkas menjelaskan pengalaman yang baru
dijalaninya.
Hanya
Merubah Paradigma
Baik tanam mundur maupun tanam maju sama- sama tanam padi.
Merubah paradigma masyarajat petani bisa dikatakan gampang,namun jangan
menganggap enteng.Tanam maju hanya untuk merubah paradigma petani,jika ingin
maju jadi petani tanampun harus maju,tidak mundur lagi seperti kebiasaan.
Sosok petani merupakan makhluk yang paling berjasa bagi
negara ini,sebab jika tidak ada petani kita mau makan apa..? bisa dibayangkan
andai pangan kita terganggu dengan jumlah populasi penduduk semakin
bertambah,maka kestabilan sosial dan politik akan terganggu. Hargailah jasa
petani dan jangan dijadikan obyek !
“Jangan
bicara produksi dan swasembada pangan,jika petaninya tidak dimuliakan...!!”
Rahmat
Adinata,Pengurus Nasional Gerakan Petani Nusantara( GPN)
(Waingapu,Sumba
Timur,NTT . 28/3/16)
Minggu, 27 Maret 2016
Jumat, 25 Maret 2016
Selasa, 15 Maret 2016
Langganan:
Postingan (Atom)